Duh, Mayoritas Begal di Makassar Ternyata Anak di Bawah Umur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 7 anggota Geng Motor digelandang di Polrestabes Makassar, Sulsel, 21 September 2014. TEMPO/Iqbal lubis

    7 anggota Geng Motor digelandang di Polrestabes Makassar, Sulsel, 21 September 2014. TEMPO/Iqbal lubis

    TEMPO.COMakassar - Kebanyakan begal di Makassar ternyata anak di bawah umur. Hal itu terlihat dari pengungkapan sederet kasus begal pada awal tahun ini. Dari 19 pelaku yang ditangkap, 14 di antaranya merupakan anak baru gede alias ABG dengan rentang umur 12-15 tahun. Sebagian besar berstatus pelajar SMP dan SMA/SMK. 

    "Itu menyedihkan dan menjadi pekerjaan rumah bersama. Bukan hanya kepolisian yang mesti bekerja, melainkan pemerintah dan orang tua juga mesti mengambil peran," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Ajun Komisaris Besar Noviana Tursanurrohmad, Senin, 4 Januari. 

    Kerap kali, Noviana bercerita, para orang tua datang menangis ke kantor polisi saat anaknya ditangkap. Hampir semuanya berdalih tidak menyangka sang anak berbuat kriminal. Padahal, tindakan anaknya sudah kelewat batas dan terkadang menghilangkan nyawa orang. "Mereka memanah dan membacok korban, dan orang tuanya mengaku tidak tahu," tuturnya. 

    Berangkat dari fenomena itu, Noviana mengharapkan para orang tua dan instansi terkait proaktif mencegah anak menjadi begal. Sebab, kepolisian sebatas melakukan pencegahan berupa patroli dan sosialiasi. Adapun deteksi dini akan lebih efektif dilakukan orang tua, dinas pendidikan, dan dinas sosial. 

    Berdasarkan data Tempo, setidaknya ada lebih dari lima kasus pembegalan di Makassar pada awal tahun ini. Tercatat tiga kasus yang menonjol berhasil diungkap di antaranya penangkapan 12 begal di Jalan Batua Raya, 4 begal di Jalan Rusa, dan 3 begal di Jalan Anoa. Belasan begal itu tergolong sadis lantaran dua dari tiga korbannya masih kritis. 

    Para begal cilik itu kebanyakan mengaku ikut-ikutan melakukan aksi teror kejahatan jalanan. Seperti yang diutarakan MR (12) yang menyangkal memanah dan membacok Asdar (27), yang kini kritis di Rumah Sakit Ibnu Sina. Saat ditemukan, kondisi Asdar tidak lagi berdaya dengan tiga anak panah menancap di punggung, satu anak panah di wajah, serta dua luka bacokan di pundak dan pinggang kiri. "Saya cuma ikut-ikutan," ujar MR yang putus sekolah dan menjadi juru parkir. 

    Pengakuan serupa disampaikan MY (15) yang bercerita ia hanya dituduh oleh rekannya yang lain. Siswa SMK di Kota Makassar itu mengakui sempat kumpul untuk merayakan malam tahun baru. Saat Asdar melintas di Jalan Batua Raya, komplotannya menyerang korban dan mengambil sepeda motor, uang tunai, dan telepon seluler sopir kampas itu. "Tapi bukan saya yang panah dan bacok korban. Itu ulah teman saya," ucapnya.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut Gojek.