Perekonomian Riau Sepanjang 2015 Anjlok  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas pemadam kebakaran bersama sejumlah pejabat kehutanan melihat sejumlah tempat yang telah hangus terbakar akibat dari kebakaran hutan dengan menunggangi seekor gajah terlatih di Siak, Riau, 10 Novemebr 2015. AP Photo

    Petugas pemadam kebakaran bersama sejumlah pejabat kehutanan melihat sejumlah tempat yang telah hangus terbakar akibat dari kebakaran hutan dengan menunggangi seekor gajah terlatih di Siak, Riau, 10 Novemebr 2015. AP Photo

    TEMPO.COPekanbaru - Perekonomian Provinsi Riau mengalami penurunan sepanjang 2015. Angka pengangguran dan kemiskinan meningkat. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanda Daerah kecil. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil (DBH) terpangkas hingga 50 persen.

    Angka pengangguran mengalami peningkatan sepanjang 2015 di Provinsi Riau. Sebanyak 217.053 warga Riau tidak bekerja. Jumlah tersebut jauh meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 176.762 jiwa. Angka kemiskinan pun turut naik. Pada 2015, tercatat 531.390 juta atau meningkat ketimbang tahun sebelumnya, 498.280 jiwa.

    Pelaksana tugas Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman, mengakui meningkatnya angka pengangguran di daerah itu. "Memang terjadi peningkatan," katanya, Kamis, 31 Desember 2015.

    Arsyadjuliandi mengatakan tahun 2015 merupakan masa sulit bagi perekonomian Riau menyusul melemahnya perekonomian dunia. Sejumlah komoditas yang menjadi unggulan Riau, seperti crude palm oil (CPO), minyak dan gas, serta hasil perkebunan lain, tidak mampu mendongkrak perekonomian secara signifikan lantaran lesunya harga komoditas di pasar dunia.

    Turunnya harga minyak dunia pada level terendah di angka US$ 36 per barel cukup membuat perekonomian Riau kian terpukul. Terlebih harga CPO dan karet terus menurun. Pada saat bersamaan, menurut  Arsyadjuliandi, jumlah penduduk terus bertambah akibat migrasi sehingga kesempatan kerja terbatas.

    "Belum lagi luas lahan perkebunan yang semakin terbatas serta pendidikan tenaga kerja yang rendah," ujarnya.

    Turunnya harga komoditas unggulan sektor migas turut memperburuk kondisi dengan terpangkasnya DBH hingga 50 persen. Riau kehilangan Rp 4 triliun dari DBH Migas yang sebelumnya mencapai Rp 8 triliun. 

    “Bisa dibayangkan sibuknya kami, belum lagi bencana kabut asap melanda Riau hingga Oktober membuat kami kelabakan,” ucapnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.