Festival Antikorupsi, Begini Cara Didik Anak Jauhi Korupsi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Murid SD Negeri Andir Kidul menunjukan cap tangan dan pernyataan anti korupsi saat kampanye gerakan

    Murid SD Negeri Andir Kidul menunjukan cap tangan dan pernyataan anti korupsi saat kampanye gerakan "Gak Pake Korupsi" Bandung, Jawa Barat, 27 November 2015. Hampir 1.000 anak ikut melukis cap tangan sebagai dukungan mereka terhadap pendidikan anti korupsi sejak dini. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Simpul Institut menggelar acara Xatrya: Tips Kreatif Menjadi Agen Perubahan, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Festival Antikorupsi. Acara yang digelar di Bandung sepanjang November-Desember 2015, itu merupakan salah satu even peringatan hari anti korupsi internasional yang jatuh pada Rabu, 9 Desember 2015.

    Xatrya merupakan kegiatan penyuluhan anti korupsi yang khusus diikuti oleh anak-anak. Even ini diikuti oleh beberapa SD di kota Bandung. Adapun lokasi yang dipilih menjadi tempat berrlangsungnya acara itu, yakni SD Labschool Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Setiabudhi, Kota Bandung.

    "Pesertanya ada sekitar 100 anak SD yang berasal dari tiga SD di Bandung, yakni SDN Geger Kalong Girang, SDN Isola, dan SD Labschool sebagai tuan rumah," kata Kooordinator acara Xatrya, Fani Afrina kepada Tempo, di sela kesibukannya memandu acara itu, di SD Labschool, UPI, Jalan Setiabudhi, Kota Bandung, Sabtu, 5 Desember 2015.

    Menurut Fani, konsep acara itu yakni tidak hanya sebatas pemaparan materi seputar anti korupsi, namun lebih pada pencegahan tindakan korupsi yang sebetulnya marak terjadi dan anak-anak banyak meniru hal itu. "Intinya adik-adik ini tidak diberi materi-materi tentang anti korupsi, tapi lebih ke pencegahannya, jadi kita ingin nilai integritas itu tidak dicekokan, tapi lebih kepada membangkitkan kesadaran adik-adik," ujarnya.

    Metode yang dipakai, pemateri berusaha mengarahkan anak-anak bisa memahami pentingnya nilai-nilai integritas Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) yang meliputi kejujuran, peduli, mandiri, disiplin, kerja keras, sederhana, tanggung jawab, berani dan adil. "Jadi adik-adik harus menemukan sendiri seperti apa sih gunanya nilai integritas di masyarakat itu, lalu bagaimana ketika nilai integritas itu dilanggar. Jadi sekarang metodenya disurvei dulu, kami arahkan adik-adik untuk menemukan masalah kemasyarakatan yang sebetulnya pelanggaran integritas," katanya.

    Kemudian, kata dia, si pemateri mengarahkan peserta agar bisa memecahkan masalah terkait pelanggaran integritas itu dan mencari solusinya. "Tadi kami ajak adik-adik ke lapangan langsung dan mencari masalah yang berkaitan dengan pelanggaran integritas itu, seperti buang sampah sembarangan dan yang lainnya," ujar dia.

    Selain itu, ucap dia, sebagai langkah lanjutannya, sekolah yang mengikuti acara itu akan diberi 100 pin tentang integritas yang akan dibagikan kepada siswa siswi berprestasi menegakkan nilai-nilai integritas itu. "Kita juga menyiapkan pin integritas untuk sekolah, kita menyiapkan sekitar 100 pin, nantinya semacam reward bagi adik-adik," ujarnya.

    Terlihat anak-anak SD sangat antusias mengikuti acara itu. Sesekali mereka tertawa lantaran materi seputar anti korupsi yang disampaikan berbalut dengan guyonan. "Materinya sengaja nggak serius amat agar lebih mudah dicerna adik-adik," katanya.

    AMINUDIN A.S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.