Sumatera Selatan Hadapi Ancaman Banjir dan Longsor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Palembang - Sumatera Selatan saat ini termasuk salah satu daerah rawan bencana banjir dan tanah longsor. Pasalnya, mulai Desember hingga awal tahun depan, curah hujan di daerah ini terbilang tinggi. Selain itu, tutupan lahan sudah banyak hilang akibat terbakar, perambahan, dan alih fungsi. Menyikapi hal itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana meminta daerah setempat menyiapkan langkah antisipasi dan penanggulangannya.

    "Intensitas hujan meningkat, sehingga ancaman juga tinggi," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Jumat, 4 Desember 2015. Menurut dia, sejumlah daerah sudah mulai terkena dampak dari hujan tinggi. Selain Padang, Bengkulu Utara belakangan juga terkena longsor. Hal itu menimbulkan belasan korban. Menyikapi tanda-tanda alam tersebut, BPBD diminta sigap.

    Kepala Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Sumatera Selatan Mohammad Irdam mengatakan curah hujan Desember termasuk tinggi. Jadi warga di daerah rawan diminta lebih waspada terhadap ancaman bencana. Dalam catatannya, pada penghujung tahun ini, curah hujan berada pada 300-400 MM atau lebih. "Tingkatkan kewaspadaan karena curah hujan tinggi selama Desember ini," ucap Irdam.

    Selanjutnya, ujar Irdam, kondisi serupa berpeluang terjadi pada Februari atau Maret tahun depan. Dalam beberapa pekan terakhir ini, hujan dengan intensitas beragam mengguyur sebagian besar wilayah di Sumatera Selatan. Di Palembang, misalnya, terjadi genangan air di sejumlah titik di jalan raya akibat curah hujan tinggi. Akibatnya, kemacetan lalu lintas semakin parah.

    Selain itu, tutur Irdam, mulai Desember hingga beberapa bulan ke depan, warga diminta mewaspadai datangnya longsor dan angin puting beliung. Berdasarkan pantauan BMKG, longsor berpeluang terjadi di bagian barat daya dan barat laut Sumatera Selatan, seperti Empat Lawang, Musi Rawas, Lahat, Pagar Alam, Muara Enim, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ulu Selatan, dan Musi Banyuasin.

    "Angin puting beliung umumnya terjadi pada musim pancaroba," kata Irdam. Menurut dia, hampir semua daerah berpotensi terjadi puting beliung. Hal itu bergantung pada intensitas awan cumulonimbus. Namun biasanya terjadi pada daerah dengan vegetasi yang kurang. Ia menyebut angin kencang dan puting beliung pernah terjadi di Muara Enim, Ogan Komering Ulu, Musi Banyuasin. Pagar Alam, Ogan Komering Ilir, Banyu Asin, dan Palembang.

    PARLIZA HENDRAWAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?