Ulama 34 Negara Sebarkan 'Malang Message'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita menangis di papan memorial sang suami di South Tower Memorial Pool dalam peringatan 13 tahun tragedi serangan 9/11, di World Trade Center, New York, Kamis 11 September 2014. AP/The New York Times, Chang W. Lee, Pool

    Seorang wanita menangis di papan memorial sang suami di South Tower Memorial Pool dalam peringatan 13 tahun tragedi serangan 9/11, di World Trade Center, New York, Kamis 11 September 2014. AP/The New York Times, Chang W. Lee, Pool

    TEMPO.CO, Malang - Wakil Presiden Jusuf Kalla yakin Malang Message hasil rumusan dari International Conference of Islamic Scholars (ICIS) bakal menyumbang perdamaian di seluruh dunia. Konferensi yang diikuti ratusan ulama dari Indonesia dan negara-negara di Timur Tengah dan Asia Pasifik di Universitas Islam Negeri Malang itu berakhir hari ini, Rabu 25 November 2015.

    Kalla menilai pesan dari Malang bisa untuk menghentikan terorisme, radikalisme dan konflik yang terjadi di negara Islam. Konflik dan radikalisme itu disebutnya telah menyebabkan banyak umat muslim menderita lalu mencari perlindungan ke negara-negara di Eropa.

    "Menjadi harapan besar untuk menyebarkan Islam moderat, Islam Rahmatan Lil Alamin," ujarnya sambil menambahkan bahwa konflik terjadi karena persoalan internal dan eksternal. "Termasuk mereka membutuhkan pemimpin yang adil dan demokratis."

    Malang Message merupakan pernyataan ulama dari seluruhnya 34 negara peserta konferensi. Mereka menyurakan Islam moderat dan Islam Rahmatan Lil Alamin. "Islam yang toleran, moderat, tidak kiri dan kanan. Nilai ini akan kita ekspor ke negara lain," ujar Sekretaris Jenderal ICIS, Kiai Haji Achmad Hasyim Muzadi.

    Konsep Islam moderat yang berkembang di Indonesia dan Asia Tenggara akan ditawarkan untuk mengakhiri konflik sejumlah negara Islam di Timur Tengah. Menurutnya, selama ini konflik dan radikalisme terjadi karena perbedaan cara pandang dan inteloransi.

    Toleransi dan Islam moderat menjadi solusi mengatasi persoalan tersebut. Seperti Pancasila, katanya, menjadi inti dari agama Islam. Pancasila juga tak menempatkan Indonesia sebagai negara Islam dan juga bukan negara sekuler.

    ICIS berdiri 2002 bertujuan meredam ekstrimisme dan radikalisme setelah serangan teroris ke menara kembar WTC di Amerika Serikat 11 September 2011. Caranya merangkul ulama, sufi, dan cendikiawan muslim untuk menangkal radikalisme dan terorisme.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kepolisian Menetapkan Empat Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla

    Kepolisian sudah menetapkan 185 orang dan empat perusahaan sebagai tersangka karena diduga terlibat peristiwa kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.