Memilukan, Keluarga Ini 7 Tahun Hidup di Kandang Ayam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga Asep Sutandar, 63 tahun, dan Dede Sumarni, 43 tahun, yang tinggal di dalam kandang ayam di Kampung Selakopi , Cianjur, Jawa Barat. TEMPO/Deden

    Keluarga Asep Sutandar, 63 tahun, dan Dede Sumarni, 43 tahun, yang tinggal di dalam kandang ayam di Kampung Selakopi , Cianjur, Jawa Barat. TEMPO/Deden

    TEMPO.CO, Cianjur - Pasangan Asep Sutandar, 63 tahun, dan Dede Sumarni, 43 tahun, warga Kampung Selakopi, Desa Babakancaringin, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang memiliki sembilan anak sudah tujuh tahun lebih tinggal di dalam kandang ayam. Selama itu, keluarga ini tidak menerima bantuan apa pun dari Pemerintah Kabupaten Cianjur.

    Beragam program bantuan, seperti dana PSKS serta Rutilahu yang digembar-gemborkan pemerintah untuk menyejahterakan warga, rupanya hanya isapan jempol bagi keluarga Asep. "Setelah masuk pemberitaan, baru ada orang dari Pemkab Cianjur yang melihat keadaannya," kata Nanang, warga setempat, kepada wartawan di Cianjur, Kamis, 12 November 2015.

    Menurut dia, kehidupan keluarga Asep memang memprihatinkan lantaran harus hidup sehari-hari bersama ayam. Selain itu, bangunan kandang ayam yang hanya dilapisi reng bambu membuat angin malam leluasa masuk. "Jelas, kondisi kesehatan mereka pun memprihatinkan. Belum lagi ditambah dengan ekonominya yang pas-pasan. Hal ini perlu disikapi serius oleh pemerintah," ucap Asep.

    Asep mengaku sudah terbiasa dengan keadaan tersebut. Dia bersama istri dan kesembilan anaknya sudah kebal terhadap dinginnya angin malam yang menembus kulit. "Awalnya memang anak-anak pada sakit, tapi sekarang, mungkin karena sudah terbiasa, mereka menjadi kuat," tuturnya sambil menggendong salah satu anaknya.

    Menurut Asep, keluarganya hidup dari kerja serabutan. Dia sering menjadi buruh tani palawija milik tetangga. Hasil ternak ayam pun tak seberapa. Semuanya itu tentu tak cukup untuk menghidupi sembilan anaknya: Cera, 21 tahun, Sutaci (19), Neni (12), Ikham (13), Sani (10), Rita (8), Dio (5), Gita (4), dan Sutari (3).

    "Anak yang paling besar sudah bekerja karena dibantu oleh kepala desa. Empat lain sedang bersekolah. Sisanya masih kecil-kecil. Sehari-hari penghasilan pun tidak tentu, kadang dapat kadang tidak," tutur Asep.

    Selama ini, kata Asep, hanya kepala desa setempat, perwakilan dari pemerintah, yang rutin memantau keadaannya. Meski kunjungan itu tidak sering, hati kecilnya sangat bahagia. "Ya, itu pun tidak terlalu sering. Namun Kepala Desa Babakancaringin rajin datang ke sini untuk bersilaturahmi," ucapnya.

    Kepala Desa Babakancaringin Deni Setia Budi menuturkan pihak pemerintah segera menyikapi hal ini dengan berencana membuatkan rumah yang layak untuk ditinggali keluarga Asep.

    DEDEN ABDUL AZIZ

    Video dengan Kisah Serupa:



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.