Taufiq Ismail, Kisah Ngompol dan Antikomunis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Taufik Ismail. TEMPO/Seto Wardhana

    Taufik Ismail. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosok itu telah renta, tapi tangannya yang mengentak-entak menunjukkan semangat yang masih menyala. Dari mulutnya, dengan lancar dan bersemangat ia mengisahkan peristiwa 1965. "Sebelum kejadian September 1965 itu, mereka (kaum komunis) sudah tau akan gerakan itu," kata Taufiq Ismail dalam sebuah acara bedah buku di Jakarta, Selasa, 10 November 2015.

    Cerita itu ia dengar dari Soerastri Karma Trimurti, salah seorang pendiri Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani. Taufiq bercerita, dulu orang tuanya berkawan dengan pasangan SK Trimurti dan Sayuti Melik. Pasangan itu dijulukinya 'merah sekali'. Keduanya berkawan, meskipun berbeda aliran. Orang tua Taufiq sendiri merupakan anggota Masyumi, yang ia analogikan berwarna hijau. "Saya waktu kecil digendong-gendong, kemudian ngompol, terus buang air besar, segala macan," ujar Taufiq.

    Setelah kuliah, Taufiq masih sering mengunjungi Trimurti. Taufiq mengatakan saat berkunjung ia akan diminta menunduk. Kemudian Trimurti akan menggulung koran yang akan dipukul ke kepalanya tiga kali. Itulah upacara yang selalu dilakukannya. "Dulu saya diompolin waktu kamu kecil, saya tidak bisa balas," ujar Taufiq menirukan ucapan Trimurti saat itu.

    Dari mulut Trimurti juga, Taufiq mendapat cerita mengenai peristiwa 1965 dan alasan hengkangnya pendiri Gerwani itu.

    Taufiq menceritakan, sebagai tokoh komunisme, Tri melawat ke negara sosialis selama dua tahun. Setelah perjalanan panjangnya, yakni pada Januari 1965, Tri justru mengeluarkan statement yang membuat semua pihak kaget. Ia menyatakan mundur dari gerakan komunis. Hal ini sontak membuat petinggi partai komunis kalang kabut. Dipa Nusantara Aidit segera mendatangi rumah Tri. Dalam kisah yang menurut Taufiq diceritakan Tri, Aidit datang dengan berjalan cepat, setengah berlari.

    Aidit mempertanyakan kepergian Tri. "Ini gimana kok bikin pernyataan seperti ini. Kan mau ada kerja besar (September 1965)," kata Taufiq menirukan Aidit, seperti apa yang dikisahkan Tri.

    Tri menilai apabila ideologi komunis diterapkan, akan berat mempertanggungjawabkannya. Taufiq mengatakan bukan hanya Tri yang keluar. Suaminya, Sayuti, pun sudah lama keluar. "Ucapan Sayuti waktu itu adalah kalau pemuda baca Marx, lalu tidak tertarik pada komunisme, berarti dia bebal. Tapi kalau sampai tua dia masih komunis, berarti dia manusia paling bebal," ujarnya.



    MAWARDAH NUR HANIFIYANI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.