Menkeu Minta Daerah Gunakan Dana Menganggur Atasi Kabut Asap  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hutan dan lahan yang dibakar di luar kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 1 November 2015. Warga banyak mengalami gangguan pernafasan akibat terkena asap kebakaran hutan di kalimantan dan Sumatera. Ulet Ifansasti/Getty Images

    Hutan dan lahan yang dibakar di luar kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 1 November 2015. Warga banyak mengalami gangguan pernafasan akibat terkena asap kebakaran hutan di kalimantan dan Sumatera. Ulet Ifansasti/Getty Images

    TEMPO.CO, Bogor - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah daerah punya uang untuk menanggulangi bencana kabut asap. Jadi, ucap dia, pemda yang terkena bencana asap tak perlu terus-terusan mengandalkan pemerintah pusat.

    Bambang berujar, uang untuk menanggulangi bencana asap bisa diambil dari dana menganggur pemda. Ia mencontohkan, Provinsi Riau mempunyai dana menganggur Rp 2 triliun.

    Menurut dia, Rp 200 miliar cukup untuk menanggulangi bencana asap. “Enggak fair ada uang di daerahtapi semua dilempar ke pemerintah pusat,” ucapnya di Sentul, Sabtu, 7 November 2015.

    Badan Pusat Statistik menyatakan, pada Kamis lalu, kebakaran hutan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini berdampak pada kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2015. Deputi Neraca dan Analisis BPS Suharyanto menuturkan ada kontraksi di subsektor kehutanan dan penebangan kayu sehingga mengalami pertumbuhan negatif -2,72 persen.

    Pada kuartal III, sektor pertanian menyumbang 14,57 persen untuk produk domestik bruto, naik 3,21 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Persentase ini membuat subsektor kehutanan dan penebangan kayu menjadi penyumbang kedua terbesar terhadap produk domestik bruto Indonesia setelah sektor industri pengolahan.

    “Akibat banyaknya kebakaran hutan tersebut, angka pertumbuhan ini menurun dibanding capaian 2014 yang berada pada angka 3,63 persen,” kata Suharyanto.

    Perlambatan pertumbuhan juga terjadi di subsektor pangan, yang melambat dari 2,8 persen pada 2014 menjadi 1,06 persen tahun ini. Meski begitu, ada kabar baik dari sektor pertanian ini. Sebab, terjadi pertumbuhan yang tinggi terhadap subsektor perikanan sebesar 8,37 persen, terutama efek produksi rumput laut yang meningkat pesat dan diversifikasi komoditas.

    TRI ARTINING PUTRI | AHMAD FAIZ IBNU SANI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pidato Jokowi Terkait Kinerja dan Capaian Lembaga Tinggi Negara

    Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR pada 16 Agustus 2019. Inilah hal-hal penting dalam pidato Jokowi.