Tumpeng Haul Syekh Djumadil Kubro Jadi Rebutan Ribuan Orang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Makam Djumadil Kubro di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, ramai peziarah saat Ramadan. TEMPO/Ishomuddin

    Makam Djumadil Kubro di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, ramai peziarah saat Ramadan. TEMPO/Ishomuddin

    TEMPO.CO, Mojokerto– Ribuan orang berebut tumpeng dalam acara Grebeg Kubro yang digelar di halaman depan makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa sore, 27 Oktober 2015.

    Grebeg Kubro merupakan agenda tahunan Makam Troloyo selain pengajian  haul punjer (pusat) sesepuh Walisanga, Syekh Jumadil Kubro. Tahun ini adalah haul ke-640. Jumadil Kubro yang bernama asli Syekh Jamaluddin al-Husain al-Akbar disebut-sebut berasal dari Kota Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah dan cucu ke-18 Nabi Muhammad dari garis putri Nabi, Fatimah Az Zahrah.

    Tidak diketahui kapan Syekh Djumadil Kubro datang ke Jawa. Hanya disebutkan bahwa dia wafat pada 1376 Masehi atau 15 Muharam 797 Hijriyah dan dimakamkan di Troloyo, Trowulan. Kini tiap 15 Muharram diperingati sebagai haul atau peringatan wafatnya.

    Jumadil Kubro adalah penyebar agama Islam di kalangan bangsawan dan masyarakat pada zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan menurut berbagai sumber, Jumadil Kubro merupakan salah satu dari sembilan ulama atau wali sanga generasi pertama dari Timur Tengah yang diutus Kesultanan Turki untuk menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara.

    Dari Jumadil Kubro lahir ulama wali sanga generasi kedua. Jumadil Kubro masih kakek dari Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) atau buyut dari Sunan Bonang, Sunan Drajad, dan Sunan Kudus.

    Iring-iringan tumpeng dan kirab pelajar yang berpakaian ala wali sanga dan prajurit Majapahit diarak dari Pendapa Agung Trowulan menuju Makam Troloyo yang berjarak 500 meter. Sebelum warga berebut tumpeng, terlebih dulu dilakukan prosesi penyerahan pusaka ke Penjabat  Bupati Mojokerto, Ardi Prasetiawan.

    Usai doa, warga langsung menyerbu tiga tumpeng besar. Ketiga tumpeng itu terdiri dari tumpeng berisi hasil bumi yakni sayuran, buah, dan ubi; tumpeng berisi nasi; dan tumpeng berisi kue. “Meskipun hanya dapat sayuran, yang penting dapat berkahnya,” kata salah satu warga, Kholifah.

    Warga yang lain juga berharap dapat berkah dari berebut tumpeng dalam Grebeg Kubro itu. “Saya dapat nasi dan kue yang sudah hancur, enggak apa-apa, katanya biar dapat berkah,” ujar Siti.

    Acara Grebeg Kubro ini diselenggarakan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Mojokerto bersama instansi terkait. “Kirab dan haul Syekh Jumadil Kubro ini bagian dari tradisi dan agenda wisata tahunan,” kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin.

    ISHOMUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?