Hari Santri, Mahasiswa Kuliah Bersarung dan Berpeci  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Santri bermain rebana saat mengikuti kirab santri dalam rangka perayaan Hari Santri Nasional di Tangerang, Banten, 22 Oktober 2015. pemerintah Banten menganggarkan dana sebesar Rp 3,7 miliar untuk pelaksanaan Hari Santri. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Santri bermain rebana saat mengikuti kirab santri dalam rangka perayaan Hari Santri Nasional di Tangerang, Banten, 22 Oktober 2015. pemerintah Banten menganggarkan dana sebesar Rp 3,7 miliar untuk pelaksanaan Hari Santri. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Malang - Aktivitas perkuliahan di Universitas Islam Malang (Unisma) berbeda dibanding perkuliahan umumnya hari ini, 22 Oktober 2015. Seluruh mahasiswa, dosen, dan karyawan mengenakan sarung dan berpeci. Bahkan, petugas keamanan dan petugas kebersihan harus bersarung dan berpeci.

    Sedangkan mahasiswi dan dosen perempuan mengenakan jilbab atau berbusana muslim. Mereka mengenakan sarung dan peci selama proses perkuliahan berlangsung. "Melestarikan budaya santri," ujar Rektor Unisma Maskuri, Kamis, 22 Oktober 2015.

    Mengenakan sarung dan berpeci, katanya, untuk memperingati Hari Santri Nasional yang ditetapkan Presiden Joko Widodo. Sebelum berkuliah, mereka juga menggelar upacara bendera di halaman kampus di Dinoyo, Malang.

    Bersarung dan berpeci, tak menghambat aktivitas perkuliahan. Sarung dan peci, katanya, selama ini selalu identik sebagai pakaian yang dikenakan santri di pesantren.

    Selain memperingati hari santri, bersarung, dan berpeci itu juga sebagai peringatan lustrum Unisma ke 35.

    Kuliah mengenakan sarung dan berpeci juga telah memecahkan rekor kuliah bersarung terbanyak versi Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Perkuliahan mengenakan sarung dan berpeci akan digelar setiap tahun. Selain untuk identitas juga memperkuat kultur Nahdlatul Ulama dan santri.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.