Soal Hari Santri Nasional, Ini Tanggapan Putri Gus Dur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Joko Widodo memperlihatkan surat yang menjanjikan tanggal 1 Muharam akan menjadi Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Babussalam, Malang, 27 Juni 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Joko Widodo memperlihatkan surat yang menjanjikan tanggal 1 Muharam akan menjadi Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Babussalam, Malang, 27 Juni 2014. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO , Jakarta: Putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid mengatakan Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada 22 Oktober 2015 mendatang sebagai penyelaras di antara umat Islam sendiri.

    “Kontribusinya besar sekali buat bangsa ini. Mengingatkan kita lagi soal ajaran-ajaran Islam yang memang mengindonesia,” ujar Inayah saat ditemui Tempo di Jakarta Selatan, pada Sabtu, 17 Oktober 2015.

    Inayah menilai kondisi umat Islam saat ini mudah terpicu amarahnya dengan muncul aliran-aliran yang dianggap sesat. Ia mengatakan ekstrimisme dalam beragama bukan menjadi persoalan di masyarakat.

    Akan tetapi ketika pemeluk agama merasa paling benar, itu adalah persoalan yang terjadi bertahun-tahun. “Persoalan ini seperti kanker, kalo dibiarkan akan menjadi tumor,” kata dia.

    Inayah menganggap gagasan Hari Santri Nasional lahir karena kecocokan Jokowi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Ia mengakui ada kedekatan antara NU dengan Jokowi ketika pemilu, sehingga ide itu sekarang menjadi klop.

    “Kalo itu dipakai buat menguatkan Islam yang memang mengindonesia, ya sudah nggak apa-apa. Tapi jangan sampai itu dipakai untuk kepentingan-kepentingan tertentu atau agenda politik pemerintah,” ujarnya.

    Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Agil Siroj menyatakan Presiden Joko Widodo setuju tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

    DANANG FIRMANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.