Titik Kebakaran Lahan Sumatera Bertambah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Titik api terlihat dalam layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Kabut asap akibat kebakaran hutan telah menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga Riau dan sekitarnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Titik api terlihat dalam layar pemantau di Posko Kebakaran Lahan dan Hutan di Manggala Wanabakti, Jakarta, 22 September 2015. Kabut asap akibat kebakaran hutan telah menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas warga Riau dan sekitarnya. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika stasiun Pekanbaru kembali melaporkan lonjakan titik panas di Sumatera, Rabu, 14 Oktober 2015. Satelit Tera dan Aqua memantau 300 titik panas tersebar di delapan daerah di Sumatera. Provinsi Sumatera Selatan masih menjadi titik panas terbanyak mencapai 222 titik. Riau waspada asap kiriman.

    "Titik panas terpantau pukul 16.00 WIB," kata Kepala BMKG stasiun Pekanbaru, Sugarin Widayat, Selasa, 13 Oktober 2015.

    Sugarin menjelaskan, kemunculan titik panas juga terdapat di Jambi 22 titik, Lampung 31 titik, Bengkulu 13 titik, Bangka Belitung enam titik, Sumatera barat satu titik, dan Kepulauan Riau dua titik. Sedangkan untuk wilayah Riau terpantau dua titik panas yang tersebar di Pelalawan satu titik dan Indragiri Hilir satu titik. "Tingkat kepercayaan di atas 70 persen," ujarnya.

    Sugarin menjelaskan, secara umum cuaca wilayah Riau berawan diselimuti kabut asap tipis. Peluang hujan ringan terjadi di Riau bagian barat, utara, dan tengah. "Temperatur maksimum 31.0-33.0 derjat calcius," ucapnya.

    Kabut asap masih mengganggu kualitas udara di sejumlah wilayah seperti Pekanbaru jarak pandang menurun 1.200 meter, Pelalawan 1.200 meter, Rengat 2.000 meter, dan Dumai 2.000 meter.

    Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman kembali memperpanjang status darurat pencemaran udara akibat asap di Provinsi Riau. Perpanjangan status darurat ditetapkan hingga sepekan kedepan, 20 Oktober 2015. Riau waspada asap kiriman mengingat provinsi Suamtera Selatan masih banyak ditemukan titik api. "Status darurat pencemaran udara akibat asap ini kami perpanjang sepekan kedepan," kata Andi, panggilan Arsyadjuliandi, kemarin. Status darurat asap di Riau sudah berlangsung sejak 14 September 2015 lalu.

    Menurut Andi, langkah tersebut diambil sebagai pertimbangan lantaran masih banyaknya ditemukan titik api di dua provinsi tetangga yakni Sumatera Selatan dan Jambi. Kedua daerah itu disebut turut menyumbang asap kiriman ke Riau karena pergerakan angin dari selatan ke utara turut membawa asap sisa kebakaran hutan dan lahan di daerah tersebut terbawa hingga Riau.

    Kepala Dinas Riau Andra Sjafril mengatakan bahwa kualitas udara di sejumlah wilayah Riau beberapa hari belakangan berangsur pulih. Kabut asap menipis. Indeks Standar Pencemaran Udara berada di bawah angka 200 Psi. Jauh menurun dari hari sebelumnya mencapai level berbahaya. Meski demikian lanjut dia, pelayanan kesehatan masyarakat terus disiagakan mengingat titik panas masih banyak terdapat di Jambi dan Sumatera Selatan. Pergerakan angin dari selatan ke utara masih mengancam wilayah Riau mendapatkan asap kiriman dari dua daerah tetangga itu.

    "Kami tetap komitmen memberikan pelayanan, terlebih sudah ada perpanjangan status darurat pencemaran udara," ujarnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.