Stop Konflik Air Bersih, Purwakarta Bangun Pipa Rp 300 M

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memikul jerigen air bersih di kawasan Cikadut, Bandung, Jawa Barat, 1 September 2015. Selama kemarau warga harus mengangkut air bersih sendiri yang diambil di bak penampung umum setiap dua hari sekali karena sumur di rumah mereka kering. TEMPO/Prima Mulia

    Warga memikul jerigen air bersih di kawasan Cikadut, Bandung, Jawa Barat, 1 September 2015. Selama kemarau warga harus mengangkut air bersih sendiri yang diambil di bak penampung umum setiap dua hari sekali karena sumur di rumah mereka kering. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Purwakarta - Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, akan membangun jaringan pipa air bersih baru di tiga wilayah kecamatan yang saat ini menjadi zona industri. "Nilai investasi mencapai Rp 300 miliar," kata Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, kepada Tempo, Selasa, 13 Oktober 2015.

    Pipanisasi air bersih dibawah kendali PDAM yang akan meliputi wilayah Kecamatan Campaka, Cibatu dan Bungursari. Dedi menjelaskan, pembangunan pipa itu sebagai solusi konflik sosial yang ditimbulkan antara kalangan warga dan pengelola industri yang sama-sama memanfaatkan air bersih yang bersumber dari bawah tanah.

    Warga menuding, setiap terjadi kemarau panjang ketersediaan air bersih bawah tanahnya baik itu yang berbentuk sumur timba atau sumur pantek selalu kering kerontang karena tersedot oleh sumur artesis milik ratusan industri. Pengusaha merasa membuat sumur artesis tidak ada masalah karena sudah mengantungi ijin dari pemerintah.

    "Konflik rebutan air bersih itu kadang menimbulkan aksi kriminal. Makanya, harus segera dihentikan," kata Dedi beralasan. Jika jaringan pipa air bersih yang dikelola perusahaan pelat merah milik pemerintah daerah itu sudah terealisasi, maka, kepemilikan sumur artesis harus dihentikan dan dialihkan ke air bersih PDAM.

    Dedi menjanjikan pembangunan instalasi pipa air bersih PDAM tersebut akan diselesaikan dalam waktu secepatnya. "Paling lambat setahun," katanya. Jika proyek pipanisasi air bersih itu tuntas, ia yakin tak akan ada lagi konflik rebutan air bawah tanah antara warga dan pengelola industri.

    Kepala Desa Cijunti, Kecamatan Campaka, Toha, menyambut baik rencana pembangunan pipanisasi air bersih PDAM tersebut. "Kami sudah menunggu sejak lama," ujarnya.

    Ia mengungkapkan, setiap terjadi musim kemarau panjang, warganya selalu kesulitan air bersih. "Kalau musim kemarau, sumber airnya habis sama pabrik," Toha menjelaskan. Solusinya, warga memperdalam sumur panteknya dan sumur timbanya hingga kedalaman 30 meter. Tapi, itu sering gagal karena sumber airnya kosong.

    Sungai Cilamaya sebagai salah satu solusi jitu jika terjadi kekeringan, sejak sepuluh tahun terakhir, sudah tak dapat dipakai lagi. Karena, kondisi airnya bau menyengat dan hitam pekat dikotori limbah buangan pabrik kertas.
    Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pengusaha Indonesia, Darius, juga mengapresiasi solusi pengadaan air bersih dengan membuat jaringan pipanisasi PDAM. "Kami pikir ketersediaan air bersih akan lebih efesien dan terjamin," katanya.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.