Jokowi Tetap Yakin Pembangunan Kanal Bakal Padamkan Api

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meninjau lokasi bekas kebakaran lahan di desa Guntung Damar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 23 September 2015. Selain meninjau lokasi titik api (hotspot), Jokowi juga akan melaksanakan ibadah salat Idul Adha di Masjid Al Karomah Martapura. ANTARA/Herry Murdy Hermawan

    Presiden Joko Widodo meninjau lokasi bekas kebakaran lahan di desa Guntung Damar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 23 September 2015. Selain meninjau lokasi titik api (hotspot), Jokowi juga akan melaksanakan ibadah salat Idul Adha di Masjid Al Karomah Martapura. ANTARA/Herry Murdy Hermawan

    TEMPO.CO , Pekanbaru:  Presiden Joko Widodo tetap yakin bahwa langkah yang paling tepat mencegah kebakaran lahan dan hutan yakni dengan membangun sekat kanal dan embung untuk cadangan air.

    Cara itu menjadi program unggulan pemerintah untuk mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut. "Paling sulit padamkan api di lahan gambut, perlu ada embung dan kanal bersekat," ujarnya bekas lahan terbakar Desa Rimbo Panjang, Km 17, Kabupaten Kampar, Riau pada Jumat sore, 9 Oktober 2015.

    Sebelumnya, pada 25 September 2015u, Jokowi mengusulkan hal serupa ketika berkunjung ke Desa Henda, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

    Menurut Jokowi, perlu kerja sama membangun kanal. "Kuncinya kanalisasi, ini harus dibangun besar-besaran," katanya kepada wartawan di Kalimantan Tengah.

    Jokowi memerintahkan Badan Nasional Penanggullangan Bencana (BNPB)  membangun kanal itu karena pemerintah provinsi dan kabupaten tidak sanggup.

    Banyak pihak yang khawatir pembuatan kanal itu bakal makin mernguras air di dalam lahan gambut sehingga akan kering dan mudah terbakar..

    Dalam kunjungan ke Kampar, Jokowi didamping Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo beserta sejumlah pejabat Riau.

    Jokowi memantau embung dan kanal bersekat yang baru saja dibuat secara tergesa-gesa oleh pemerintah menjelang kedatangannya.

    Jokowi tidak menjawab pertanyaan wartawan terkait ribuan warga Riau terserang penyakit akibat paparan asap begitu juga dengan korban meninggal dipicu asap pekat.

    Jokowi malah bercerita soal penanganan kanal bersekat, embung dan pemadaman. Jokowi tidak ada jawaban soal kompensasi apa yang bakal diberikan untuk masyarakat korban asap.

    "Dilapangan pasukan pemadam betul-betul bekerja, tapi kita harus tahu luas kebakaran akibat El Nino ini cukup luas dampaknya, luas lahan terbakar mencapai 1,7 juta hektare," katanya.

    Jokowi mengatakan, pemerintah saat ini fokus melakukan pemadaman di Sumatera Selatan. Sebab kata dia, kabut asap yang saat ini menyelimuti Riau lebih dominan asap kiriman dari daerah itu. "Kita konsentrasi penanganan di Sumatera Selatan, disana masih ada 400 lebih titik api," katanya.

    Jokowi kembali berjanji bencana asap akan selesai dalam waktu dua pekan kedepan. Karena, katanya, Satgas pemadam telah mendapatkan lima pewawat pemadam bantuan dari luar negeri dengan daya tampung air yang cukup besar.

    Sebentar saja melihat lahan terbakar, Jokowi kembali ke Padang,Sumatera barat setelah sebelumnya membagi-bagikan buku tulis kepada warga sekitar.

    RIYAN NOFITRA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.