Benarkah Ada Penyiksaan Jenderal Korban G30S 1965?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota PKI sedang menyiksa dan menawan Mayjen S Parman, Mayjen Suprapto, Brigjen Sutoyo dan Lettu Pierre Tendean di serambi rumah di dalam Monumen Lubang Buaya Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, 4 Juli 2012. TEMPO/Subekti

    Anggota PKI sedang menyiksa dan menawan Mayjen S Parman, Mayjen Suprapto, Brigjen Sutoyo dan Lettu Pierre Tendean di serambi rumah di dalam Monumen Lubang Buaya Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur, 4 Juli 2012. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Selama puluhan tahun menjelang 1 Oktober, masyarakat diberi tontonan film peristiwa pemberontakan G30S 1965. Film arahan sutradara Arifin C. Noer yang dibuat tahun 1984 ini menjadi tontonan wajib.

    Salah satu adegan dalam film itu adalah rekonstruksi penggambaran kekejaman pemberontak PKI terhadap jenderal-jenderal yang dikumpulkan di Lubang Buaya. Lebih dari sepuluh menit penonton disuguhi adegan menyilet, menyundut, dan mencungkil mata pahlawan revolusi yang sedang sekarat. Tanpa sensor, murid sekolah dasar pun harus menyaksikan adegan tersebut. Namun benarkan penggambaran film itu?

    Baca juga: G30 S 1965: Benarkah Amerika Bikin Daftar Orang-orang yang Dibunuh?

    Setelah penemuan jenazah para jenderal yang diculik, Soeharto selaku Pangkostrad meminta jenazah tersebut divisum. Tim forensik waktu itu merupakan gabungan Tim Kedokteran ABRI dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

    Anggotanya antara lain Prof Dr Arif Budianto, yang waktu itu dokter termuda di dalam tim; Prof Soetomo Tjokronegoro (FKUI); Brigadir Jenderal Prof Roebiono Kertapati (Direktur RSPAD dan patolog); dr Frans Pattiasina (patolog dari RSPAD); dan dr Ferry Liauw Yan Siang (FKUI).

    Topik Pilihan: G30S 1965 - Pembunuhan Jenderal

    Waktu itu surat kabar Harian Angkatan Bersenjata menggambarkan, "Perbuatan biadab berupa penganiayaan jang dilakukan diluar batas peri kemanusiaan." Berita Yudha, salah satu koran nasional saat itu, menuliskan bahwa pada mayat para jenderal terlihat "Bekas-bekas luka disekujur tubuh akibat siksaan sebelum ditembak," demikian tertulis pada tahun 2002.

    Kepada Tempo, Prof Dr Arif Budianto memberikan fakta berbeda. Menurut Arif, memang pada semua tubuh jenderal ditemukan bekas tembakan dari jarak dekat. Namun penyiksaan dengan mencungkil bola mata, menurut para dokter, tidak ada. Mereka yakin 100 persen kondisi mata para korban terjadi karena pembusukan. "Tidak ada bekas pencungkilan secuil pun pada rongga mata para korban."

    Kesaksian tersebut sama dengan laporan visum et repertum yang diperoleh Tempo tahun 2002. Dokumen tersebut merupakan salinan asli yang bersumber dari berkas pada persidangan Mahkamah Militer Luar Biasa perwira intelijen Angkatan Udara, Heru Atmodjo, pada 1966-1967.

    Kesaksian lain dituturkan kamerawan TVRI, Hendro Subroto, yang merekam pengangkatan jenazah dari jarak 3 meter. Wartawan televisi satu-satunya yang hadir di lokasi ini saat itu tidak melihat adanya bekas penyiksaan. "Menurut saya, mereka (para jenderal) hanya luka tembak, tidak dianiaya atau disayat-sayat. Seperti yang saya katakan, orang mati karena penganiayaan dan penembakan menghasilkan kondisi jenazah yang berbeda," kata Hendro kepada Tempo pada 2002.

    EVAN | PDAT Sumber Diolah Tempo

    Baca juga:
    G30S 1965: Benarkah Intel Amerika Beri Bantuan  Pejabat Militer RI

    Kisah Salim Kancil Disetrum, Tak Juga Tewas: Inilah 3  Keanehan  

     Video Terkait:

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.