Belasan Pengalengan Tuna Indonesia Dapat Rapor Merah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang buruh mengangkat ikan Tuna untuk dilelang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bersehati, Manado, Sulawesi Utara, Minggu (3/11). ANTARA/Fiqman Sunandar

    Seorang buruh mengangkat ikan Tuna untuk dilelang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bersehati, Manado, Sulawesi Utara, Minggu (3/11). ANTARA/Fiqman Sunandar

    TEMPO.CO, Jakarta: Belasan perusahaan pengalengan tuna Indonesia mendapat rapor merah dari organisasi lingkungan global Greenpeace. Greenpeace dalam survei terbarunya, memberi ranking pada 22 perusahaan industri pengalengan tuna di Indonesia dan Filipina.

    Dari 22 perusahaan, tidak ada satu pun yang meraih rapor hijau (baik), hanya satu perusahaan mendapat rapor kuning (cukup), dan selebihnya mendapat rapor merah (kurang). Penilaian ini berdasarkan dari tiga kriteria kunci, yaitu keterlacakan, keberlanjutan, dan kesetaraan.

    Kriteria keterlacakan berdasarkan kemampuan perusahaan dan konsumen menelusuri dari mana asal ikan tuna yang digunakan. “Kami ingin semua tangkapan ikan dari kapal perlu jelas asal usulnya dari mana, dan ada pemisahan berdasarkan metode tangkapnya, dan tiap ikan diberi label dengan benar,” kata Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia Arifsyah Nasution dalam konferensi pers di Hotel Akmani, Senin, 21 September 2015.

    Perusahaan juga dituntut memiliki komitmen dalam menjual tuna yang berkelanjutan. Aspek penting yang menjadi penilaian di kriteria keberlanjutan ini meliputi status ikan tuna yang digunakan harus berasal dari stok yang tidak mengganggu proses tuna untuk berkembang biak, serta cara penangkapan yang digunakan.

    “Kita sering menggunakan rumpon, sehingga banyak jenis yang bukan target penangkapan ikut terjaring, contohnya hiu,” ujar Arifsyah. Greenpeace juga menjadikan kesetaraan sebagai kriteria kunci dalam penilaian industri pengalengan tuna.

    Terkait maraknya praktek perbudakan maka Greenpeace mendesak perusahaan memastikan kesejahteraan bagi para pekerjanya.

    Dalam metodenya Greenpeace melakukan survei kepada 22 perusahaan di Indonesia dan Filipina. Namun, hanya tujuh perusahaan yang berpartisipasi. Dari tujuh perusahaan,hanya satu perusahaan yang mendapat rapor kuning (cukup), selebihnya rapor merah (kurang). 15 perusahaan yang tidak berpartisipasi dilakukan riset online eksternal dan semuanya bernilai kurang (rapor merah).

    Berikut hasil survei industri pengalengan tuna di Indonesia dan Filipina tahun 2015.

    Ranking - Perusahaan Pengalengan - Negara - Kategori

    1. Century Canning Corp. Filipina. Cukup
    2. PT. Delta Pasific Indotuna. Indonesia. Kurang
    3. PT. Samudera Mandiri Sentosa. Indonesia. Kurang
    4. Philbest Canning Corp. Filipina. Kurang
    5. Ocean Canning Corp. Filipina. Kurang
    6. PT. Sinar Pure Foods International. Indonesia. Kurang
    7. Celebes Canning Corp. Filipina. Kurang
    8. CV. Pasific Harvest Corp. Indonesia. Kurang
    9. PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry. Indonesia. Kurang
    10. Alliance Select Foods International . Filipina & Indonesia. Kurang
    11. PT. Avila Prima Intra Makmur. Indonesia. Kurang
    12. - CDO Foodsphere. Filipina. Kurang
    - Permex Producers and Exporters Corp. . Filipina. Kurang
    - Seatrade Canning Corp . Filipina. Kurang
    - PT. RD. Pacific International. Indonesia. Kurang
    - PT. Aneka Tuna Indonesia. Indonesia. Kurang
    - PT. Banyuwangi Cannery Indonesia. Indonesia. Kurang
    - PT. Juifa International Foods. Indonesia. Kurang
    - PT. Carvinna Trijaya Makmur. Indonesia. Kurang
    13. PT. Deho Canning Co. Indonesia. Kurang
    - PT. Maya Muncar. Indonesia. Kurang
    14. Bigfish Foods Corporation. Filipina. Kurang

    FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.