Jaring Ikan Angkat Dua Mayat Bocah di Bengawan Solo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga memeriksa jaring ikan miliknya yang ditebar di areal persawahan yang terendam air luapan dari Bengawan Solo di Desa Pelangwot, Lamongan, Jawa Timur, Senin (7/1). ANTARA/Syaiful Arif

    Seorang warga memeriksa jaring ikan miliknya yang ditebar di areal persawahan yang terendam air luapan dari Bengawan Solo di Desa Pelangwot, Lamongan, Jawa Timur, Senin (7/1). ANTARA/Syaiful Arif

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Laniasita, 9 tahun, dan Rahmawati, 9 tahun, ditemukan tak bernyawa di Sungai Bengawan Solo, Desa Bakalan, Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur, Senin, 21 September 2015. Kedua bocah perempuan yang bersepupu itu menghilang sejak Minggu lalu.

    Laniasita ditemukan pertama terapung di Bengawan Solo pada Senin sekitar pukul 08.00. Jasad siswi kelas IV SD Negeri Kabalan ini tersangkut jaring ikan yang beralih fungsi untuk mencari korban tenggelam. Rahmawati ditemukan selang 2,5 jam kemudian.

    "Pencarian dilakukan tim SAR, polisi, dan penyelam tradisional di Kecamatan Kanor," kata Sus, anggota tim pencarian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro.

    Sus berujar, kedua bocah dilaporkan sempat bermain-main di tepi Bengawan Solo, tak jauh dari Desa Kabalan dan Simbatan, Kecamatan Kanor. Keduanya sempat pamit kepada nenek mereka, Sriah. Namun, hingga menjelang petang, keduanya tak kunjung pulang. Pihak keluarga akhirnya melaporkan ke kantor Desa Kabalan, kantor Kecamatan Kanor, dan Kepolisian Sektor Kanor.

    Tim SAR mencari dari pinggiran hingga bagian tengah sungai. Beberapa perahu karet dan tradisional mengitari perairan sungai yang berkedalaman 1-5 lima meter itu. Jaring untuk alat tangkap ikan juga ditebarkan di lokasi perairan.

    Setelah dilakukan pencarian lebih dari lima jam, tiba-tiba satu jaring milik warga menyangkut beban berat. Begitu diangkat, ternyata mayat Laniasita yang tersangkut jaring tersebut. Berselang dua jam kemudian, Rahmawati ditemukan, juga dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

    Camat Kanor Subiyanto menuturkan polisi masih melakukan pemeriksaan. “Ya, untuk sementara, penyebabnya adalah tenggelam,” ujarnya, Senin, 21 September 2015.

    Dia mengimbau kepada orang tua agar memberi perhatian kepada anaknya, terutama mereka yang bertempat tinggal di pinggir Bengawan Solo. "Sebab, meski terlihat dangkal karena kemarau, bisa membahayakan, karena kedalaman sungai tidak merata."

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.