Pedagang Daging Sapi di Bandung Juga Mogok Serempak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana perdagangan di Pasar Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Jumat (4/12). Pasar tradisional semakin terdesak ritel modern. Presiden akan meresmikan revitalisasi pasar tradisional Januari 2010. TEMPO/Prima Mulia

    Suasana perdagangan di Pasar Kiaracondong, Bandung, Jawa Barat, Jumat (4/12). Pasar tradisional semakin terdesak ritel modern. Presiden akan meresmikan revitalisasi pasar tradisional Januari 2010. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COBandung - Para penjual daging sapi di beberapa pasar di Kota Bandung tutup kios, Minggu, 8 Agustus 2015. Mereka serempak mogok berjualan hingga Selasa atau Rabu pekan depan. Sebagian mengalihkan modalnya untuk berjualan daging domba dan ayam.

    Afrinal, pedagang daging sapi di Bandung, mengatakan dia dan pedagang lain kompak tidak berjualan karena pasokan daging tidak ada. “Di sini ada sekitar 40 pedagang, semuanya enggak ada daging,” katanya saat ditemui Tempo di Pasar Kiaracondong. Hari ini, ia dan istrinya hanya bisa berjualan sedikit daging domba.

    Dari pantauan Tempo, kondisi serupa ada di Pasar Kordon di Jalan Buah Batu. Kios dan lapak penjual daging hampir semuanya tutup. Sebagian pedagang ada yang membuka kios untuk berjualan daging domba. Ada pula yang sementara waktu beralih menjadi penjual daging ayam.

    Sebelumnya diberitakan, Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (APDASI) Kota Bandung melakukan aksi mogok berjualan dari pukul 12.00, Sabtu, 8 Agustus, hingga pukul 12.00, Rabu, 12 Agustus 2015. 

    Staf bagian Seksi Hukum dan Advokasi APDASI Kota Bandung, Atep Aminudin, mengatakan pemogokan itu merupakan bentuk keberatan terhadap kebijakan pemerintah yang membatasi kuota daging impor. Akibatnya, harga daging sapi belakangan ini mahal.

    Imam, penjual daging sapi lainnya, mengatakan biasanya ia menjual daging seharga Rp 110 ribu per kilogram. Sejak bulan puasa lalu, harganya merangkak naik hingga kini Rp 120-130 ribu per kilogram. 

    “Biasanya beli sekuintal bisa habis, sekarang 60-70 kilogram juga nyisa,” ujar pedagang yang kini berjualan daging ayam itu. Saat harga daging sapi normal, keuntungannya bisa lebih besar dengan jumlah yang enggan disebutkan.

    Menurut Imam, mahalnya daging sapi tak membuat keuntungan dagang mereka bertambah. Justru sebaliknya, pengeluaran membengkak, sementara pembeli berkurang karena harga daging naik. “Biasanya setelah Lebaran harganya turun, sekarang kok enggak,” tuturnya. Dia berharap pemerintah menormalkan kembali harga daging sapi.

    Sebelumnya, diberitakan pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati, Jakarta, juga mogok berjualan.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.