Manusia Perahu Rogoh Rp 79 Juta Demi ke Australia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua pria Muslim Rohingya, Noor Alam (kanan) dan Sadik Hussein duduk di rumah gubuk yang menjadi tempat pengungsian warga Muslim Rohingya di di Desa Thetkabyin, utara dari Sittwe, Myanmar, 29 Mei 2015. (AP Photo)

    Dua pria Muslim Rohingya, Noor Alam (kanan) dan Sadik Hussein duduk di rumah gubuk yang menjadi tempat pengungsian warga Muslim Rohingya di di Desa Thetkabyin, utara dari Sittwe, Myanmar, 29 Mei 2015. (AP Photo)

    TEMPO.CO, Kupang - Sebanyak 65 imigran gelap asal Rohingya, Bangladesh, dan Srilanka diusir Angkatan Laut Australia, saat hendak mencari suaka ke negeri kanguru tersebut.

    Mereka diusir dengan cara didorong kembali ke Pulau Rote menggunakan dua kapal milik Australia. Meski didorong menjauh dari teritorial Australia, mereka diberi pelampung, makanan dan bahan bakar secukupnya.

    Kepala Polre Rote Ndao, Ajun Komisaris Besar Hidayat mengatakan para imigran ini ditemukan terdampar di Desa Landu, Kecamatan Rote Barat Laut, setelah kapal yang mereka tumpangi karam karena kehabisan BBM.

    "Mereka diselamatkan nelayan setempat, sebelum diamankan polisi," kata Hidayat kepada Tempo di sela- sela evakuasi imigran itu ke Kupang, Selasa, 2 Juni 2015.

    Sebanyak 65 imigran yang diamankan berasal dari Myanmar satu orang, Srilanka 54 orang dan Bangladesh 10 orang. Rinciannya, ada 3 balita dan empat wanita dewasa. Sisanya, laki-laki dewasa.

    Menurut cerita dari para imigran ini, mereka berangkat ke Australia menggunakan kapal sendiri hingga mencapai Pulau Pasir. Namun, mereka dihadang oleh angkatan laut Australia dan diusir kembali ke Rote menggunakan dua kapal. "Kapal satunya rusak, dan satunya masih bagus dan sudah disita," kata Hidayat.

    Imigran itu dievakuasi ke Kupang menggunakan Fery cepat yang dikawal anggota kepolisian Rote Ndao. Mereka tiba di Kupang sekitar pukul 13.30 Wita dan langsung diangkut menggunakan lima unit bus dan dibawa ke hotel tempat penampungan.

    Kajuran, salah satu imigran asal Srilanka mengaku hendak mencari suaka ke Australia, karena di daerahnya sangat susah, sehingga ingin mencari kehidupan yang lebih baik. "Kami susah di negeri kami," katanya.

    Dia mengaku membayar US$ 6000 atau sekitar Rp 79 juta untuk bisa sampai ke Australia. Dari Srilanka mereka masih bertahan beberapa lama di Malaysia sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia dan Australia. "US$ 6000 perorangan sampai ke Australia," katanya.

    Dia mengaku perjalanannya sudah sampai ke Pulau Pasir perbatasan Indonesia-Autralia, namun dihadang tentara Australia dan ditolak kembali ke Pulau Rote. "Dua kapal diusir ke Rote," katanya.

    YOHANES SEO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Instagram Uji Coba Menghilangan Fitur Likes agar Fokus ke Konten

    Instagram tengah lakukan uji coba penghapusan fitur likes di beberapa negara pada Juli 2019. Reaksi pengguna terbelah, sebagian merasa dirugikan.