Hari Ini, Novel Baswedan Hadapi Sidang Praperadilan Perdana  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Novel Baswedan menemui wartawan di Gedung KPK seusai melakukan jumpa pers di Jakarta, 10 Mei 2015. Sebelumnya, Novel telah melakukan praperadilan pertama atas penangkapan dirinya. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Novel Baswedan menemui wartawan di Gedung KPK seusai melakukan jumpa pers di Jakarta, 10 Mei 2015. Sebelumnya, Novel telah melakukan praperadilan pertama atas penangkapan dirinya. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta -- Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bakal menggelar sidang praperadilan perdana kasus penangkapan dan penahanan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan pada hari ini, Senin, 25 Mei 2015. Sidang itu bakal menguji kesalahan administrasi dalam penangkapan dan penahanan Novel oleh Anggota Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian pada Jumat dinihari, 1 Mei 2015.

    "Saya berharap dapat menunjukkan tindakan penyidik yang salah dan melanggar aturan hukum acara pidana," kata Novel kepada Tempo melalui pesan pendek, Minggu, 24 Mei 2015. Novel mengajukan permohonan praperadilan pada Senin, 4 Mei 2015.

    Salah satu pengacara Novel, Bahrain, mengatakan banyak kesalahan administrasi dalam penangkapan dan penahanan kliennya. Misalnya, soal adanya perbedaan antara pasal yang disangkakan dan pasal dalam surat perintah penangkapan.

    Pengacara Novel yang lain, Muji Kartika Rahayu, mengatakan Kepala Badan Reserse Komisaris Jenderal Budi Waseso mengeluarkan surat perintah pada 20 April 2015 yang memberi "lampu hijau" kepada penyidik Badan Reserse untuk menangkap Novel. Menurut Muji, dasar menangkap atau menahan seharusnya berupa surat perintah penyidikan.

    "Kabareskrim bukan bagian dari penyidik yang ditunjuk untuk melakukan penyidikan," ujarnya. Muji menuding Budi Waseso telah mengintervensi penyidik.

    Polisi menuduh Novel menganiaya pencuri sarang burung walet saat menjabat Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bengkulu pada 2004. Polisi pertama kali mengusut kasus ini saat Novel memimpin penyidikan kasus korupsi petinggi Kepolisian, Inspektur Jenderal Djoko Susilo. Waktu itu kasus dibekukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    Belakangan polisi mengusut lagi kasus Novel setelah KPK menetapkan calon Kepala Kepolisian Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka. Muji menyebut penangkapan dan penahanan terhadap Novel terindikasi bukan bertujuan untuk penegakan hukum.

    Juru bicara Markas Besar Kepolisian Brigadir Jenderal Agus Rianto mengatakan polisi siap mengikuti jalannya sidang praperadilan kasus Novel. "Kami tentu sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti sidang praperadilan," katanya melalui pesan pendek, Ahad, 24 Mei 2015.

    MUHAMAD RIZKI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Memberangkatkan 529 Kloter pada Musim Haji 2019

    Pada musim haji 2019, Indonesia memberangkatkan 529 kelompok terbang, populer disebut kloter, yang akan dibagi dalam dua gelombang.