Aceh Kirim Bantuan 3 Truk ke Pengungsi Rohingya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah imigran etnis Rohingya, makan pagi bersama saat berada di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh, 11 Mei 2015. REUTERS

    Sejumlah imigran etnis Rohingya, makan pagi bersama saat berada di tempat penampungan di Lhoksukon, Aceh, 11 Mei 2015. REUTERS

    TEMPO.COBanda Aceh - Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyalurkan bantuan sebanyak tiga truk barang untuk warga muslim Rohingya yang terdampar di perairan Aceh Utara pada pekan lalu. Bantuan yang terdiri atas kebutuhan sandang, pangan, sembako, dan pakaian itu diserahkan Kepada Kepala Dinas Sosial Aceh Al Hudri, yang selanjutnya diantar langsung ke Aceh Utara, Kamis, 14 Mei 2015.

    Gubernur Zaini mengaku prihatin dengan kondisi pengungsi, terutama ibu dan anak-anak. Zaini mengatakan sebagai sesama muslim harus selalu terbina sikap tolong menolong dan saling membantu. “Sesama muslim adalah bersaudara. Nestapa dan kepiluan mereka juga bagian dari kehidupan kita,” katanya.

    Bantuan spontan ini diharapkan cepat tersalurkan karena sangat diperlukan oleh para pengungsi. “Tolong bantuan ini segera diantar dan didistribusi kepada saudara kita yang saat ini sedang membutuhkan,” ujar Zaini kepada Al Hudri.

    Al Hudri mengatakan akan langsung mengantarkan sumbangan tersebut. “Saya dan beberapa Staf Dinsos akan mengawal dan ikut dalam konvoi pengiriman sumbangan ini ke Aceh Utara,” katanya.

    Menurut catatan Dinas Sosial Aceh, saat ini jumlah muslim Rohingya yang ditangani di Lhoksukon berjumlah 469 jiwa, terdiri atas 98 wanita, 51 anak-anak, dan selebihnya adalah laki-laki. Beberapa dari mereka saat ini sedang menjalani perawatan medis karena kondisi tubuh yang lemah.

    Para pengungsi itu sebelumnya menumpang empat kapal yang hendak ke Malaysia. Mereka terdampar di pantai Aceh Utara pada Minggu dinihari, 10 Mei 2015.

    ADI WARSIDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utang BUMN Sektor Industri Melonjak, Waskita Karya Paling Besar

    Sejumlah badan usaha milik negara di sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan utang yang signifikan. Waskita Karya menanggung utang paling besar.