Golkar Pecah, Priyo: Kalau Diam, Disalahkan Sejarah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Ketua Umum Partai Golkar, Priyo Budi Santoso berjabat tangan dengan Agung Laksono saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) IX Partai Golkar di Jakarta, 7 Desember 2014. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Calon Ketua Umum Partai Golkar, Priyo Budi Santoso berjabat tangan dengan Agung Laksono saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) IX Partai Golkar di Jakarta, 7 Desember 2014. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Partai Golongan Karya, Priyo Budi Santoso, menyatakan Golkar tak boleh diam dan harus melawan hasil Musyawarah Nasional Bali. Jika terpilih, ia memastikan akan membangun dan pembersihan Golkar dari oknum yang berlawanan dengan semangat partai, termasuk yang terlibat dalam Munas Golkar ilegal di Bali.

    "Kalau diam, kami akan disalahkan sejarah. Jawaban saya, tidak. Kita harus lawan," kata Priyo dalam pidato visi-misi, Ahad, 7 November 2014. Ia menyatakan Golkar lahir sebagai partai besar dan kuat. Golkar tercatat menang tujuh kali pemilihan dari total sepuluh pemilihan umum di Indonesia. (Baca: Setelah Ical, Agung Laksono Jadi Ketua Umum Golkar)

    Golkar juga secara aktif ikut serta dalam pembangunan bangsa di setiap sektor. "Kami akan membangun dan mendukung pemerintahan yang sah. Kita lawan semua usaha untuk merusaknya," ujar Priyo. Hal ini berlawanan dengan hasil Munas Bali yang meloloskan Aburizal Bakrie menjadi Ketua Umum Golkar kembali. (Baca juga: Priyo: Golkar Harus Lawan Hasil Munas Bali)

    Dalam Munas Bali, Golkar diklaim menolak Perpu Pilkada dan mengembalikan pemilu presiden ke parlemen. "Ini pencemaran. Saya akan kembalikan Golkar seperti waktu pimpinan Harmoko, Akbar Tandjung, dan Jusuf Kalla," tutur Priyo. Selain itu, ia berjanji menghapus gambaran Golkar sebagai partai orang tua.

    Priyo berjanji akan menggerakkan kader muda Golkar untuk siap dan bertarung dalam pelbagai kompetisi politik. Jika terpilih, Priyo sendiri akan meminta Jusuf Kalla sebagai Ketua Majelis Tinggi Golkar, Agung Laksono sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Golkar, dan Agus Gumiwang sebagai Wakil Ketua Umum Golkar. (Baca: Alasan Agung yang Ngotot Tolak Islah-dengan Ical)

    Dalam pemilihan tertutup yang berlangsung hingga Senin dinihari, 8 Desember 2014, Priyo gagal menjadi ketua umum. Ia dan Agus Gumiwang Kartasasmita masing-masing hanya mendapatkan 77 dan 71 suara. Sedangakan satu suara abstain. Keduanya dikalahkan Agung dengan perolehan 147 suara. (Simak juga yang lainnya: Kubu Ical: Peserta Munas Ancol Diberi Rp 500 juta)

    FRANSISCO ROSARIANS

    Baca Berita Terpopuler
    Kubu Ical: Peserta Munas Ancol Diberi Rp 500 juta
    Jokowi Kaget Lihat Jakabaring
    Begini Cara 13 Polisi di Kudus Menyiksa Kuswanto
    Ical Pecat Kader Bandel di Munas Golkar Tandingan
    Usul BPJS Jadi Kartu Subsidi, Anang Dibilang Lucu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.