Yogyakarta Panas Ekstrem, Warga Waspada ISPA

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah murid SD Dawuhan 2, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah menggunakan masker saat belajar di sekolahnya, Sabtu 13September 2014. Pihak sekolah mewajibkan murid memakai masker untuk meminimalisir gangguan ISPA dampak abu vulkanik Gunung Slamet. TEMPO/Budi Purwanto

    Sejumlah murid SD Dawuhan 2, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah menggunakan masker saat belajar di sekolahnya, Sabtu 13September 2014. Pihak sekolah mewajibkan murid memakai masker untuk meminimalisir gangguan ISPA dampak abu vulkanik Gunung Slamet. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta meminta warga mewaspadai maraknya gejala infeksi saluran pernapasan atas atau Upper Respiratory-tract Infection, memasuki pancaroba. Musim pancaroba ditandai dengan panas ekstrim pada Oktober ini.

    "ISPA menjadi ancaman utama karena partikel debu semakin aktif akibat frekuensi angin kencang," ujar Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Tri Maryono kepada Tempo, Ahad 12 Oktober 2014.

    Partikel debu di Kota Yogyakarta, kata dia, juga belum sepenuhnya bebas dari abu vulkanis letusan Gunung Kelud. Gunung Kelud yang meletus dan mengakibatkan hujan abu pada Februari lalu mengakibatkan 1.315 orang terkena ISPA.

    Direktur Rumah Sakit Jogja, Tutik Setyawati menuturkan, ISPA menjadi dampak sekunder ketika tubuh yang diserang partikel debu, dan mengalami dehidrasi akut akibat cuaca panas ekstrem. "Saat panas ekstrim seperti ini ISPA mudah mengenai orang yang fisiknya lemas, kurang cairan, dan tenggorokan kering," kata dia.

    Meski tak berbahaya, namun jika dibiarkan ISPA ini bisa berkembang menjadi asma dan perlu perawatan intensif. "Kami sarankan untuk lebih menambah frekuensi mandi dan konsumsi air dua kali lebih banyak dari kebutuhan normal," kata Tutik. Selain itu, warga didorong disiplin menggunakan masker ketika berada di luar saat siang hari.

    Staf seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yogyakarta, Indah Retno Wulan, menuturkan mendekati pertengahan Oktober ini, suhu udara di Yogyakarta berkisar pada 34-35 derajat celcius pada siang hari. Adapun kecepatan angin di darat tercatat 15-22 kilometer per jam. Yogya pernah mencatat rekor suhu siang hari hingga 37 derajat celcius pada 2009 lalu. Saat itu terjadi gangguan cuaca akibat El-Nino dan La Nina.

    PRIBADI WICAKSONO


    Topik terhangat:

    Mayang Australia | Koalisi Jokowi-JK | Kabinet Jokowi | Pilkada oleh DPRD

    Berita terpopuler lainnya:
    Sanksi SBY Buat Nurhayati 
    Jadi Tangan Kanan Prabowo, Aburizal Enggan Mundur 
    Disfungsi Ereksi, Pria Ini Masukkan Baja ke Penis 
    PAN: Pindah Kubu seperti Menceraikan Istri Teman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.