Anas: Andai Saya SBY, Akan Antar Ibas ke KPK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anas Urbaningrum. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Anas Urbaningrum. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta -Firman Wijaya, pengacara bekas Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan baru saja mengunjungi kliennya. Menurut dia, tadi Anas sempat bercerita mengenai Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang dikenal sebagai Ibas, putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    "Mas Anas berpesan, 'seandainya saya SBY, saya akan mengantar sendiri Mas Ibas ke KPK'. Itu yang disampaikan Mas Anas Urbaningrum," kata Firman seusai menyaksikan sidang kasus proyek Hambalang untuk terdakwa Deddy Kusdinar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 28 Januari 2014.

    Menurut Firman, ungkapan Anas Urbaningrum itu berkaitan dengan posisi Ibas sesuai keterangan bekas Bendahara Umum Demokrat M. Nazaruddin dan Yulianis, Wakil Direktur Keuangan Permai Grup. Keduanya memberikan informasi adanya transaksi duit haram dari hasil proyek Hambalang yang mengalir ke Ibas sebesar US$ 200 ribu.

    Namun Ibas selalu menepisnya dan KPK tak kunjung memeriksa Sekretaris Jenderal Partai Demokrat itu. "Kami berharap KPK memang mau mendorong proses ini secara fair. Sisi lain juga, Mas Anas selama ini kooperatif," kata Firman.

    Anas Urbaningrum ditahan di Rutan KPK pada Jumat, 10 Januari lalu. Anas menjadi tersangka dalam tiga kasus gratifikasi, yakni pada proyek Hambalang, pengadaan vaksin PT Bio Farma Bandung, dan pengadaan alat laboratorium kesehatan di Universitas Airlangga.(baca juga:Siapa 'Abah' dalam Kicauan Anas Urbaningrum  )

    LINDA TRIANITA

    Berita Terpopuler:

    Rizal Ramli: SBY Pernah Ngemis ke Saya
    Daftar 14 Kendaraan Adik Ratu Atut yang Disita KPK
    200 Pengacara Bela 'Korban' Somasi SBY  
    Geledah Rumah, KPK Sewa Ahli Kunci Gembok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.