Rabu, 14 November 2018

Tahanan Cebongan Sleman Dipaksa Tepuk Tangan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Empat kantong plastik berisi barang-barang pribadi milik keempat tahanan yang tewas saat dibawa dari Instalasi Kedokteran Forensik, RSUD Dr. Sardjito, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3). Barang-barang tersebut serta hasil autopsi akan dibawa kepada penyidik untuk pengungkapan kasus penyerbuan oleh segerombolan orang bersenjata pada Sabtu (23/3) dini hari yang menewaskan keempat tahanan titipan di Lapas II B Cebongan Sleman. TEMPO/Suryo Wibowo

    Empat kantong plastik berisi barang-barang pribadi milik keempat tahanan yang tewas saat dibawa dari Instalasi Kedokteran Forensik, RSUD Dr. Sardjito, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3). Barang-barang tersebut serta hasil autopsi akan dibawa kepada penyidik untuk pengungkapan kasus penyerbuan oleh segerombolan orang bersenjata pada Sabtu (23/3) dini hari yang menewaskan keempat tahanan titipan di Lapas II B Cebongan Sleman. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta -- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, yang memulai penyelidikan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menemukan kesaksian yang mengejutkan dalam eksekusi empat tahanan yang tewas Sabtu pekan lalu. Sebanyak 31 tahanan di blok A5 (Anggrek Nomor 5) yang menyaksikan eksekusi itu dipaksa tepuk tangan oleh penembak.

    "Ya, mereka dipaksa eksekutor itu untuk bertepuk tangan setelah ia menembak mati empat tahanan," kata penyidik Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Mimin Dwi Hartono, di Cebongan, Selasa, 26 Maret 2013. (Baca juga: Asal-usul Peluru di Penjara Cebongan Sleman dan Drama 14 Jam Serangan Penjara Cebongan Sleman)

    Empat tahanan yang ditembak adalah Hendrik Angel Sahetapy (Deki), Adrianus Candra Galaja (Dedi), Yohanis Juan Manbait, dan Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu (Adi). Mereka diduga dihabisi terkait dengan kasus penganiayaan anggota Komando Pasukan Khusus TNI AD, Sersan Satu Santoso, di Hugo's Cafe, Yogyakarta, tiga hari sebelumnya.

    Ketua Komnas HAM Siti Noor Laila juga mengungkapkan, berdasarkan keterangan saksi, Komisi menyimpulkan pelaku sangat terlatih dan profesional. Ia menyebutkan, setiap personel kawanan itu membawa senjata laras panjang dan pistol di kiri dan kanan pinggang, serta memakai rompi dan zebo (penutup muka) yang seragam. Mereka juga mengenakan rompi yang diduga antipeluru.

    Sedangkan pakaian yang dikenakan ada yang berupa kemeja lengan pendek ataupun panjang. Celana yang dikenakan bukan seragam, tapi postur tubuh mereka tegap dengan tinggi yang hampir sama. "Bergerak dengan singkat, cepat, terencana," kata Laila.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, membenarkan informasi dari para saksi di tempat kejadian perkara mengenai ciri-ciri pelaku. Namun, Boy mengatakan, penyidik masih harus mengumpulkan fakta yang lebih akurat.

    Sebelumnya, Kepala Penerangan Kopassus Mayor Susilo menyatakan, pihaknya akan menindak tegas anggotanya jika terlibat kasus penyerangan ke LP Cebongan. Hingga kini, Kopassus mengklaim belum ada bukti keterlibatan mereka. "Kami masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian," kata Susilo. Cek info penyerangan profesional di penjara Cebongan, Sleman.

    PITO RUDIANA AGUSTIN | IRA GUSLINA SUFA | RUSMAN PARAQBOEQ | AGUSSUP

    Topik Terhangat: Serangan Penjara Sleman || Adi Vs Eyang Subur || Harta Djoko Susilo ||Agus Martowardojo

    Berita Terkait:
    Tahanan LP Sleman Sempat Dianiaya Sebelum Ditembak

    Asal-usul Peluru di Penjara Cebongan Sleman

    Drama 14 Jam Serangan Penjara Cebongan Sleman


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?