INFO NASIONAL - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (KPK/BKKBN) Wihaji, melakukan kunjungan kerja pertama ke Kampung KB Pasar Keong, Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, pada Rabu, 30 Oktober 2024.
Kunjungannya ini dilakukan untuk memastikan efektivitas program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, Keluarga Berencana atau Bangga Kencana dan program Percepatan Penurunan Stunting atau PPS di tingkat daerah.
"Guna mencapai Generasi Emas 2045, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga harus bekerja keras untuk memastikan bahwa setiap anak lahir sehat dan bebas dari stunting," ujar Wihaji.
Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menargetkan penurunan stunting akan dicapai dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Regulasi juga dioptimalkan untuk memberikan keleluasaan bagi program-program stunting. Sehingga setiap pihak bisa berkontribusi dalam mempercepat penurunan stunting.
Menurut Wihaji, generasi emas bukanlah sesuatu yang bisa dicapai secara instan, tetapi harus dimulai dari hulu hingga hilir. "Kita harus menyiapkan generasi masa depan sejak dini. Stunting bukan hanya masalah angka, tapi lebih pada pencegahan sejak sebelum anak dilahirkan. Kita harus mulai dari perencanaan pernikahan, memastikan calon ibu sehat, dan memberikan asupan gizi yang cukup," ujarnya.
Ia menekankan, upaya penurunan stunting akan terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor, baik dengan pemerintah daerah, kementerian lain, hingga sektor swasta yang turut berperan dalam memberikan bantuan serta edukasi kepada masyarakat.
Upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting ini merupakan bagian dari program strategis nasional. Wihaji mengatakan, target penurunan stunting telah diubah dan disesuaikan menjadi 18 persen. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tentang Penetapan Lokasi Fokus Intervensi Pencegahan Stunting Terintegrasi Tahun 2025.
Di dalamnya menerangkan fokus intervensi pencegahan stunting terintegrasi tahun 2025 akan diprioritaskan di 15 provinsi. Adapun target yang disasar sebanyak 3,6 juta anak atau sekitar 74,6 persen dari jumlah balita stunting nasional.
Sebagai salah satu upaya pencegana stunting, dalam kunjungan dinasnya, Wihaji melakukan peletakan batu pertama pada lokasi bedah rumah yang diperuntukkan bagi Keluarga Risiko Stunting (KRS).
Kegiatan ini sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan tempat tinggal, seperti perbaikan sanitasi, kesehatan, dan kelayakan tempat tinggal. Kesemuanya itu berperan penting dalam mengurangi risiko stunting pada anak.
Selama kunjungan, Wihaji juga mengunjungi keluarga risiko stunting, terutama ibu yang memiliki baduta, untuk memberikan edukasi tentang pentingnya asupan gizi serta pengasuhan yang baik. Berbagai kegiatan seperti Bina Keluarga Balita (BKB), posyandu, dan layanan Keluarga Berencana (KB) ditinjau secara langsung oleh Menteri untuk menilai efektivitasnya.
Dalam kegiatan ini, disediakan layanan kontrasepsi jangka panjang seperti implan dan IUD untuk 50 akseptor, serta penyuluhan kesehatan reproduksi bagi remaja dan calon pengantin.
Selain itu, program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) juga didorong untuk ditingkatkan, dengan mengedukasi keluarga tentang pentingnya gizi yang seimbang melalui edukasi Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).
Wihaji juga memberikan apresiasi kepada beberapa mitra kerja dari kalangan perusahaan yang turut mendukung program-program penurunan stunting.
Kunjungan kerjanya juga diwarnai dengan pemberian bantuan sembako kepada 100 KRS. Ia juga melantik para Bapak dan Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) yang akan menjadi penggerak dalam usaha penurunan stunting di masyarakat.
Melalui program dan kegiatan yang dilaksanakan di Lebak itu, Wihaji berharap hal tersebut dapat memberikan dampak jangka panjang dalam mencegah kasus stunting baru.
Wihaji mengatakan, penting melakukan pendekatan langsung dan kolaboratif untuk memahami kondisi di lapangan. Ia menekankan kunjungan kerja ini bukan sekadar simbolis, namun bertujuan memberikan dampak nyata dan memastikan bahwa program pemerintah berjalan efektif di tingkat lokal.
Sebagai upaya mempercepat penurunan stunting, pemerintah juga menggagas beberapa inisiatif baru yang akan segera diimplementasikan di seluruh Indonesia. Inisiatif-inisiatif ini mencakup peningkatan infrastruktur sanitasi, pembentukan lebih banyak posyandu di daerah terpencil, serta peningkatan kualitas gizi melalui program pangan bergizi yang berkelanjutan. (*)