Sidang Tanwir Muhammadiyah Dimulai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Denpasar:Ketua Umum PP Muhammadiyah H Syafi’i Maarif membuka Sidang Tanwir Muhammadiyah di Grand Bali Beach Hotel, Sanur, Kamis (24/1) pagi. “Muhammadiyah adalah organisasi yang flekibel. Meskipun nanti secara resmi dibuka Ibu Presiden tapi tidak apa-apa kalau sekarang kita buka dulu,” kata Syafi’i ketika menyampaikan kata sambutan. Presiden Megawati dijadwalkan akan membuka sidang ini sekitar pukul 14.00 WITA. Kata sambutan Syafi’i pun dibuat singkat. “Nanti saya akan beri sambutan lagi dalam bentuk pidato iftitah,” ujarnya. Sidang Tanwir langsung diisi dengan sidang pleno pertama, penyampaian laporan Pengurus Pusat Muhammadiyah yang disampaikan oleh Sekretaris Pegurus Pusat, Haidar Nasir. Acara dilanjutkan dengan tanggapan para pengurus wilayah Muhammadiyah se Indonesia. Pada umumnya para juru bicara pengurus wilayah tidak keberatan terhadap laporan pengurus pusat. Sejumlah juru bicara pengurus wilayah justru menyampaikan aspirasi untuk disuarakan oleh Pengurus Pusat Muhammadiyah. Peserta dari Aceh, misalnya, menyinggung-nyinggung soal pembentukan Kodam Iskandar Muda. Teungku Imam Sudja’, Ketua Pengurus Wilayah Aceh, meminta pemerintah untuk memikirkan kembali rencana pembentukan Kodam Iskandar Muda. Imam menilai, pembentukan Kodam bukan solusi dan tidak menyelasikan masalah, justru menimbulkan masalah. Pemerintah harus merenungkan lebih dalam manfaat dan mudharatnya). “Jangan-jangan lebih banyak mudharatnya.” Ia juga menyinggung mengenai tertembaknya Panglima GAM Abdullah Syafi’i. Tewasnya pimpinan GAM itu, kata dia, puncak kulminasi dari kekerasan yang dilakukan pemerintah Indonesia. “GAM akan tambah beringas, tambah geram, tambah bengis dan akan semakin memuncak dendamnya dan yang akan menjadi korban pada akhirnya adalah rakyat yang tak bersalah,” jelas Tengku Imam. Ia menilai solusi terbaik adalah dialog yang damai. Sementara itu, utusan dari Sumatera Barat sempat menyinggung perlu segera dipikirkan adanya kader Muhammadiyah yang perlu diperjuangkan untuk menjadi Presiden. “Toh NU sudah sempat kebagian. Maka sudah saatnya Muhammadiyah juga bisa mengambil posisi itu,” katanya. Ia menyebut-nyebut nama Amien Rais yang pantas untuk jabatan itu. (Jalil Hakim – Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.