Menilik Pembentukan Petrus, Penembakan Misterius pada Era Orde Baru

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi penembakan. Haykakan.top

    Ilustrasi penembakan. Haykakan.top

    TEMPO.CO, JakartaRezim Orde Baru punya catatan berbagai kisah kelam mengenai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Beberapa kasus pelanggaran HAM yang pernah dilakukan oleh Rezim Orde Baru, antara lain Kasus Penembakan Misterius (Petrus) 1982-1985, Penghilangan Paksa Aktivis 1997-1998, dan Kasus Kerusuhan Mei 1998. Kasus Petrus menjadi salah tindakan pelanggaran HAM Era Orde Baru yang banyak pula mendapat atensi di masa itu.

    Petrus diperkirakan bermula pada 1983 di berbagai daerah di Yogyakarta. Orang-orang yang dicurigai sebagai gabungan anak liar (gali) dan preman ditemukan tewas di pinggir jalan. Di tubuh mereka, tiga lubang peluru ditemukan menganga, sementara beberapa korban lain ditemukan dengan luka cekik di leher mereka. Selain itu, uang Rp 10 ribu biasanya juga ditemukan di atas mayat-mayat korban petrus sebagai biaya penguburan.

    Praktik Petrus tidak bisa dilepaskan dari kebijakan penguasa Rezim Orde Baru. Presiden Soeharto, dalam otobiografinya Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, menjelaskan bahwa Petrus merupakan metode pendisiplinan kejahatan yang efektif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Presiden Soeharto, Petrus membawa efek jera yang sangat nyata bagi para pelaku kejahatan. Para korban Petrus sengaja dibiarkan tergeletak di tengah jalan sebagai shock therapy bagi para pelaku kejahatan.

    Dilansir dari repositori.unsil.ac.id, para pelaku Petrus bertindak di bawah koordinasi Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Sudomo, yang berada di bawah komando Presiden Soeharto. Petrus hadir berangkat dari maraknya tindak kejahatan atau kriminalitas di kawasan pinggiran kota besar dan sudut-sudut kota kecil di Indonesia. Para gali yang kerap melakukan pemerasan dan perampokan sehingga meresahkan masyarakat.

    Namun, David Bourchier dalam Crime, Law, and State Authority in Indonesia, menyebutkan bahwa permasalahan munculnya preman dan gali di pinggiran kota merupakan kesalahan Rezim Orde Baru itu sendiri. Sistem ekonomi dan tata kelola finansial yang buruk membuat Rezim Orde Baru terjebak dalam krisis ekonomi. Akibatnya, banyak masyarakat terjebak dalam kemiskinan yang kemudian membuat mereka melihat bahwa kejahatan merupakan jalan satu-satunya untuk keluar—atau sekadar bertahan—di tengah gempuran kemiskinan.

    BANGKIT ADHI WIGUNA

    Baca: Penembakan Misterius 1980an Ribuan Korban Jiwa, Petrus Beraksi Pertama di Yogya


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya
    Grafis

    Ahok dalam Empat Nama Kandidat Kepala Otorita Ibu Kota Negara Baru

    Nama Ahok sempat disebut dalam empat nama kandidat kepala otorita Ibu Kota baru. Siapa tiga nama lain yang jadi calon pengelola IKN Nusantara?