Pakar Obat dari Thailand: Ganja dapat Digunakan untuk Medis, Asalkan...

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Ilustrasi Ganja. Getty Images

    Ilustrasi Ganja. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta – Pakar obat dari Thailand, Pakakrong Kwankhao mengatakan negaranya menggunakan ganja sebagai obat lini kedua dalam penanganan penyakit tertentu.

    Kwankhao mengatakan Thailand melegalkan penggunaan ganja atau cannabis untuk kepentingan medis.

    “Kami memiliki produk-produk cannabis medis (yang) kami masukkan ke daftar obat-obatan esensial nasional, (dan) jika pasien memenuhi syarat atau indikasi medis mereka akan mendapatkan obat-obatan seperti ini dari rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan,” ujar Kwankaho dalam sidang uji materiil Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika di Mahkamah Konstitusi, Selasa, 12 Oktober 2021.

    Pada pemaparannya sebagai Pemohon VI Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM), ia menerangkan legalisasi ini dilakukan karena ada peningkatan hasil penelitian perihal perawatan penyakit-penyakit tertentu dengan penggunaan ganja. Seperti kanker, serta terjadinya gerakan legalisasi ganja secara global.

    Namun, Kwankhao berkata bahwa penerapan cannabis atau ganja dalam kebutuhan medis tidak dilakukan tanpa bukti yang mendukung. Hal ini dikarenakan bahwa penggunaan ganja medis di Thailand hanya diperbolehkan apabila seorang pasien penderita penyakit dianggap tak cukup hanya mendapatkan perawatan standar dengan obat-obatan lini pertama.

    Hal ini berbeda dengan obat-obatan tradisional di Thailand yang juga diperbolehkan menggunakan ganja di dalamnya. Pada obat tradisional, Kwankhao berkata bahwa pemanfaatan ganja ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup, seperti kualitas tidur atau untuk mencegah rasa nyeri.

    Selanjutnya, Kwankhao juga menunjukkan data grafik meningkat yang diperoleh dari pasien yang diberikan ganja medis di rumah sakit tempatnya bekerja. “Terjadi peningkatan yang signifikan dalam kualitas hidup pasien-pasien (penyakit) neuropati dan kanker,” ujarnya. Hal ini salah satunya ditunjukkan dari peningkatan nafsu makan pasien.

    Kwankhao kemudian menjelaskan hasil pemantauan efek samping dari penggunaan ganja medis apabila dosisnya dinaikkan. “Kami menemukan bahwa biasanya pasien kemudian mengembangkan toleransi pada efek samping setelah beberapa bulan (diberi ganja medis) di badannya,” ujarnya. 

    AQSHAL RAIHAN BUDIPUTRA 

    Baca juga: Malaysia Kaji Legalisasi Ganja untuk Medis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 3 selama Nataru Batal, Ini Aturan Baru yang Diterapkan

    Rencana PPKM Level 3 di seluruh tanah air selama Natal dan Tahun baru telah batal ditetapan. Gantinya, ada aturan baru pengganti pada periode Nataru.