Kritik Rocky Gerung hingga Epidemiolog soal Blusukan Jokowi ke Apotek

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi sidak ke sebuah Apotek di Bogor. Instagram/Jokowi

    Presiden Jokowi sidak ke sebuah Apotek di Bogor. Instagram/Jokowi

    TEMPO.CO, Jakarta - Aksi blusukan Presiden Joko Widodo atau Jokowi mencari obat ke apotek pada Jumat, 23 Juli lalu menuai kritik pelbagai pihak. Mereka menilai Presiden mestinya melakukan pekerjaan yang lebih besar sesuai kewenangannya, alih-alih blusukan seperti saat kampanye.

    Mantan dosen Universitas Indonesia, Rocky Gerung menilai blusukan Jokowi mencari obat ke apotek justru menunjukkan penanganan pandemi Covid-19 tidak berhasil. Rocky mengatakan Jokowi semestinya memastikan ketersediaan obat agar rakyat tenang.

    "Mestinya dia cari apotek yang ada obatnya. Tapi kalau dia bilang obatnya enggak ada ya artinya tidak berhasil kan. Mestinya kan dia yang cariin obat, bukan dia yang nanya ke mana saya cari," kata Rocky ketika dihubungi, Ahad, 25 Juli 2021.

    Dalam kunjungannya ke Apotek Villa Duta di Bogor pada Jumat lalu, Presiden Jokowi menanyakan sejumlah obat antivirus dan multivitamin. Saat mendapati sejumlah obat kosong, Jokowi sempat menanyakan kepada petugas apotek ke mana dia dapat mencari obat-obatan tersebut.

    Menurut Rocky, pesan yang tersampaikan kepada publik justru menunjukkan bahwa obat tak tersedia di pasaran. Pesan berikutnya, kata dia, rakyat ibarat diminta mencari akal sendiri jika mereka terpapar Covid-19 dan memerlukan pengobatan.

    "Pesan buat rakyat harus cari akal sendiri, mau pakai dukun, mau pakai obat herbal, siapkan peti mayat, kan begitu pesannya," kata Rocky.

    Rocky lantas menyoroti tim Istana yang menyusun dan mengarahkan aksi blusukan itu. Menurut dia, tim Istana tak bisa mempertimbangkan reaksi publik yang mungkin muncul.

    "Kan nanti dipaksakan maksud Presiden begini. Ngapain terangkan maksud, maksud itu kan ditangkap oleh orang, bukan diterangkan," ucapnya.

    Ia mengatakan sudah hampir satu dekade Jokowi menggunakan metode blusukan ini, yakni sejak menjadi Gubernur DKI Jakarta. Rocky menilai, tak ada perbedaan dari pola pencitraan masuk ke gorong-gorong dan mendatangi apotek. "Sama-sama bawa kamera," ujarnya.

    Gaya blusukan memang lekat dengan Presiden Jokowi. Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan blusukan Jokowi, seperti masuk ke gorong-gorong, menjadi tukang tambal ban, hingga tukang becak membuat mantan Wali Kota Solo itu dinilai merakyat. Pangi menyebut hal itu pula yang mengantarkan Jokowi menjadi presiden.

    Namun, ia menilai momentum saat ini tak tepat bagi Jokowi untuk blusukan. Menurutnya, seorang kepala negara dan kepala pemerintahan mestinya tidak melakukan pekerjaan teknis seperti mendatangi apotek.

    Pangi mengatakan blusukan yang dilakukan Presiden itu bisa dilakukan oleh lurah atau kepala desa. Presiden, kata dia, mestinya melakukan gebrakan besar untuk mengatasi pandemi dan kesulitan rakyat saat ini.

    "Blusukan itu sudah lagu lama, kaset usang dalam kondisi sekarang, tidak tepat momentumnya," kata Pangi secara terpisah.

    Sebelumnya, epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, juga menyebut aksi blusukan Presiden Jokowi mencari obat ke apotek justru tidak mendidik masyarakat. Pandu mengatakan obat-obat yang dicari Presiden adalah obat keras yang tak boleh dikonsumsi tanpa resep dokter.

    "Itu enggak boleh, tidak mendidik publik untuk jangan melakukan pengobatan sendiri, itu obat keras," kata Pandu kepada Tempo, Sabtu, 24 Juli 2021.

    Tempo menghubungi Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin ihwal blusukan Presiden Jokowi ke apotek tersebut, tetapi belum direspons.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar Lengkap Hari Libur Nasional dan Catatan Tentang Cuti Bersama 2022

    Sebanyak 16 hari libur nasional telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk cuti bersama dan pergesera libur akan disesuaikan dengan kondisi.