Varian Delta Menyebar di 9 Provinsi, Menkes: Penularannya Lebih Cepat

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengunjungi ruang ICU Covid-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kunjungan ini untuk menyemangati tenaga kesehatan atau nakes yang tengah bertugas. Kemenkes

    Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengunjungi ruang ICU Covid-19 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kunjungan ini untuk menyemangati tenaga kesehatan atau nakes yang tengah bertugas. Kemenkes

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui bahwa rumah sakit semakin kelabakan menangani pasien Covid-19 setelah varian delta merebak. Varian B.1.617.2 itu dinilai lebih cepat menular dan meningkatkan keparahan risiko terhadap pasien yang terpapar.

    Menurut Budi, penyebaran varian ini tidak terduga. "Tidak ada yang bisa menduga varian virus delta Covid-19 itu naiknya secepat dan sebanyak apa,"
    ujar Budi seperti dikutip dari Laporan Majalah Tempo edisi 10 Juli 2021.

    Budi menyebut, varian delta memang masuk di beberapa daerah sejak Maret lalu. "Kami sudah coba mengantisipasi, tapi memang penularannya lebih cepat dibandingkan dengan perhitungan banyak ilmuwan di dunia. Tidak hanya di Indonesia, di Inggris dan Israel pun kenaikan jumlah kasusnya tinggi," ujar dia.

    Data teranyar Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian kesehatan per 6 Juli 2021 menunjukkan, total ada 436 kasus Varian Delta ditemukan di sembilan provinsi. Terbanyak di DKI Jakarta, 195 kasus, Jawa Barat 134 kasus, Jawa Tengah 80 kasus; Jawa Timur 13 kasus; Banten 4 kasus; Kalimantan Tengah 3 kasus; Kalimantan Timur 3 kasus; Sumatera Selatan 3 kasus; dan Gorontalo 1 kasus.

    Jika dibandingkan dengan data per 13 Juni, total kasus varian delta sebanyak 104 kasus di lima provinsi, 75 kasus di antaranya terdeteksi di Kudus, Brebes, dan Cilacap. Dengan kata lain, dalam kurun waktu sebulan, kasus yang ditemukan sudah naik empat kali lipat dan peta sebaran semakin meluas. Semula kasus paling banyak ditemukan di Jawa Tengah, kini bergeser ke DKI Jakarta dan Jawa Barat.

    Sejumlah epidemiolog memprediksi, kasus varian delta yang menyebar jauh lebih banyak daripada data pemerintah. Sebab, varian delta hanya bisa dideteksi dari proses whole genome sequencing (WGS), sedangkan laboratorium dengan kelengkapan WGS sangat terbatas. Sehingga, sekuens yang diperiksa pun masih sedikit dan tidak menggambarkan kondisi di lapangan.

    Dengan keterbatasan tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin akan memetakan potensi penyebaran varian dari rata-rata angka CT value hasil tes swab PCR. Daerah dengan rata-rata CT value rendah dengan angka di bawah 20 bahkan 10, ujar Budi, kemungkinan besar sudah terpapar varian delta.

    Ia mencontohkan daerah yang sudah dimasuki varian delta misalnya Provinsi Sumatera Barat, rata-rata CT value-nya 8,22. Sebelum varian delta masuk, rata-rata CT yang paling rendah 12,15. "Dari data itu kami bisa menduga bahwa daerah yang rata-rata CT minimalnya rendah itu kemungkinan sudah dimasuki varian delta," ujar Budi dalam konferensi pers daring, Jumat, 9 Juli 2021.

    Untuk itu, ujar Budi Gunadi, pemerintah memerintahkan hasil CT Value uji swab PCR harus dimasukkan ke sistem Kementerian Kesehatan agar datanya bisa diakses pemerintah untuk memetakan potensi penyebaran varian delta di Indonesia.

    Bagaimana cerita Menkes Budi Gunadi dalam menekan pandemi Covid-19 di Indonesia? Simak wawancara lengkapnya di Majalah Tempo edisi 10 Juli 2021.

    Baca juga: Varian Delta Mudah Serang Anak, Ini Pesan Dokter


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...