Selain Krisis Oksigen, Rumah Sakit di Yogya juga Kekurangan Tenaga Kesehatan

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tenaga kesehatan berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu, 5 Mei 2021. ANTARA/M Risyal Hidayat

    Sejumlah tenaga kesehatan berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu, 5 Mei 2021. ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 di Yogyakarta tidak hanya mengalami krisis stok oksigen namun juga mengalami kekurangan tenaga kesehatan setelah banyak yang tumbang.

    Sebagian dokter dan perawat positif Covid-19 dan harus menjalani isolasi. Situasi itu membuat sejumlah rumah sakit menambah beban kerja tenaga kesehatan yang tersisa dan memberlakukan sistem buka tutup.

    Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Mohammad Komarudin kelimpungan menangani pasien Covid yang melonjak. Sebanyak 30 dari 70 dokter di rumah sakit tersebut terinfeksi Covid. Dari 250 perawat, 75 positif Covid. 

    Banyaknya dokter dan perawat yang tumbang dan harus isolasi mandiri membuat Komarudin menambah jam kerja tenaga kesehatan. Jam kerja ditambah dari delapan menjadi 16 jam untuk melayani pasien Covid di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan PKU Gamping, Sleman.

    Satu dokter bekerja dalam dua shift. “Kalau keadaan memburuk, kami terjunkan dokter spesialis untuk jaga IGD,” kata Komarudin kepada Tempo, Ahad, 4 Juli 2021.  

    Dokter spesialis anak ini telah mengusahakan merekrut relawan dokter dan perawat untuk menambah jumlah tenaga kesehatan. Tapi, minim peminat. 

    Rumah sakit ini memberlakukan sistem buka tutup IGD untuk mengatasi membeludaknya pasien Covid karena jumlah tenaga kesehatan yang tidak mencukupi. Pasien Covid mengantre hingga ke selasar rumah sakit hingga Rabu, 30 Juni. Ada delapan pasien yang mengantre menunggu mendapatkan ruang ICU. 

    RS PKU Muhammadiyah memiliki 10 tempat tidur untuk pasien Covid yang dirawat di ruang ICU yang dilengkapi 10 ventilator. Ada juga 42 bed untuk pasien Covid non ICU. 

    Komarudin telah menambah 6 tempat tidur untuk dua ruangan itu. Tapi, penambahan itu tidak cukup memenuhi kebutuhan pasien. “Terisi penuh dan terjadi penumpukan terus,” kata dia. 

    Ketua IDI Daerah Istimewa Yogyakarta, Joko Murdiyanto menyebutkan 163 dokter di daerah ini positif Covid sejak Maret 2020 hingga 26 Juni 2021. 

    Hingga Sabtu, 4 Juli, di daerah ini terjadi penambahan kasus pasien terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 1.358. Total pasien positif Covid sebanyak 63.634 orang. Dari angka tersebut, sebanyak 1.656 pasien meninggal.

    SHINTA MAHARANI 

    Baca: Geger Oksigen RSUP Dr Sardjito Kosong, Pemda DIY: Subuh Pasokan Sudah Datang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.