Jokowi Bilang Bandara Toraja Habiskan Rp 800 Miliar, Memotong 3 Bukit

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Indonesia, Joko Widodo saat meresmikan Bendungan Napun Gete, Kabupaten Sikka, NTT, 23 Februari 2021. Foto/youtube.com

    Presiden Indonesia, Joko Widodo saat meresmikan Bendungan Napun Gete, Kabupaten Sikka, NTT, 23 Februari 2021. Foto/youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meresmikan Bandara Toraja di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Kamis, 18 Maret 2021. Jokowi menyebut, pembangunan bandara ini menghabiskan biaya sekitar Rp800 miliar. Biaya yang besar itu, ujar dia, karena pembangunan bandara mengharuskan memotong tiga bukit.

    "Akhirnya bandara ini bisa kita resmikan dan sudah beroperasi. Saya tadi tanya Pak Menteri, habisnya berapa ini bandara? Rp800-an miliar, karena harus memotong tiga bukit. Tiga bukit dipotong, tanah yang harus dibuang dari sana ada 6 juta meter kubik," ujar Jokowi seperti disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis, 18 Maret 2021.

    Tiga bukit tersebut, lanjut Jokowi, harus dipotong untuk membangun landasan pacu pesawat. "Memang bandara ini unik sekali, memotong tiga bukit sehingga runway-nya bisa dibangun. Runway-nya sepanjang 2.000 meter," tuturnya.

    Dengan adanya Bandara Toraja, Jokowi berharap mobilitas orang dan barang semakin mudah. "Kita tahu biasanya masyarakat di sini kalau lewat darat mau ke Makassar butuh waktu sembilan jam. Sekarang tadi saya coba dengan ATR 50 menit," ujar kepala negara.

    Kemudahan aksesibilitas ini diharapkan juga bisa meningkatkan sektor pariwisata di Toraja. "Baik dari Makassar, dari Bali, langsung ke sini, dari Jakarta langsung ke sini, dari Bandung langsung ke Tana Toraja untuk melihat negeri di atas angin," tutur Jokowi.

    Baca: Menteri PUPR Sebut Tidak Ada Anggaran Proyek Ibu Kota Baru pada 2021


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.