Eks Ketum Demokrat Imbau Senior Tak Ganggu Keutuhan Partai

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Hengky Luntungan, Yus Sudarso, Mantan Ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat Ahmad Yahya, Mantan Wasekjen Partai Demokrat Muhammad Darmizal, Mantan Wasekjen Partai Demokrat Tri yulianto, Mantan Wasekjen Partai Demokrat Sofwatilla Mohzaib dan Mantan Anggota DPR RI Fraksi Demokrat Anton Rifai saat konferensi pers di Mall Billagio, Jakarta, Selasa, 2 Februari 2021. Dalam konferensi tersebut sejumlah tokoh pendiri dan senior Partai Demokrat menyampaikan tanggapan serta keluhan terhadap pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) perihal adanya pihak yang akan mengambil alih kepemimpinan di Partai Demokrat. TEMPO/Muhammad Hidayat

    (ki-ka) Hengky Luntungan, Yus Sudarso, Mantan Ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat Ahmad Yahya, Mantan Wasekjen Partai Demokrat Muhammad Darmizal, Mantan Wasekjen Partai Demokrat Tri yulianto, Mantan Wasekjen Partai Demokrat Sofwatilla Mohzaib dan Mantan Anggota DPR RI Fraksi Demokrat Anton Rifai saat konferensi pers di Mall Billagio, Jakarta, Selasa, 2 Februari 2021. Dalam konferensi tersebut sejumlah tokoh pendiri dan senior Partai Demokrat menyampaikan tanggapan serta keluhan terhadap pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) perihal adanya pihak yang akan mengambil alih kepemimpinan di Partai Demokrat. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Subur Budhisantoso meminta para senior di Demokrat tak mengganggu keutuhan partai. Budhi menyatakan mendukung penuh kepengurusan Demokrat periode 2020-2025 yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berdasarkan kongres pada 15 Maret 2020.

    "Mari kita dukung adik-adik kita membesarkan Partai Demokrat," kata Budhi dalam keterangan tertulis, Kamis, 4 Februari 2021.

    Budhi juga menanggapi adanya konferensi pers mengatasnamakan Forum Pendiri dan Senior Partai Demokrat pada Selasa, 2 Februari 2021. Dalam konferensi pers itu, mantan pengurus Demokrat Yos Sudarso menyebut faksi Subur Budhisantoso termasuk salah satu yang menginginkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menjadi ketua umum Demokrat.

    Budhi menyatakan keberatan atas pencatutan nama itu. Ia menegaskan tak pernah dihubungi dan tak tahu menahu mengenai acara tersebut.

    Meski begitu, Budhi berpendapat bahwa polemik ini terjadi karena gerakan orang di dalam Partai Demokrat. Dia menyarankan pengurus Demokrat tak menyeret pihak luar dalam masalah ini.

    "Kita tidak perlu menyeret-nyeret pihak luar, toh itu gerakan dari dalam yang menyeret orang luar, yaitu Pak Moeldoko, untuk ditokohkan," kata Budhi.

    Ketua umum pertama Partai Demokrat ini bercerita, saat ia memimpin pun ada dua kali gerakan serupa. Namun ia membiarkan saja hingga gerakan itu padam dengan sendirinya.

    Hingga kini, dia memantau sudah ada empat hingga lima kali manuver semacam itu. Budhi pun menilai intrik semacam itu biasa dalam dinamika perpolitikan. "Pendapat saya tidak perlu menuduh pihak luar karena itu usaha dari dalam," kata Budhi.

    Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya menyebut adanya upaya mengambil alih partai melalui kongres luar biasa. AHY mengatakan gerakan itu dimotori oleh seorang kader, beberapa mantan kader, dan melibatkan pejabat pemerintah.

    Belakangan, pengurus Demokrat menyebut para motor gerakan ialah Jhoni Allen Marbun, Muhammad Nazaruddin, Darmizal, dan Moeldoko. Moeldoko membantah terlibat dalam gerakan tersebut, meski mengakui sempat bertemu beberapa orang yang mengeluhkan kondisi internal Demokrat.
    "Itu internal partai politik. Aku orang luar, enggak ada urusannya di dalam," kata Moeldoko dalam konferensi pers, Rabu, 3 Februari 2021.

    Baca juga: Pernyataan Lengkap Moeldoko yang Membantah akan Kudeta Demokrat

    BUDIARTI UTAMI PUTRI | DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?