Epidemiolog Minta Jangan Mendewakan Kehadiran Vaksin Covid-19

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Epidemiolog Pandu Riono. fkm.ui.ac.id

    Epidemiolog Pandu Riono. fkm.ui.ac.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mengingatkan bahwa vaksin Covid-19 hanya salah satu cara menangani pandemi Covid-19. Sehingga, kata Pandu, tidak tepat menjadikan vaksin sebagai senjata pamungkas mengendalikan virus.

    Upaya memutus rantai penularan Covid-19, ujar dia, tetap bergantung pada 3T (Tracing, Testing, Treatment) dan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). 

    "Jangan dikaitkan bahwa vaksin itu sebagai satu-satunya cara mengatasi pandemi. Kita semua termakan oleh pendapat yang karena kegagalan kita menangani pandemi, semuanya bersandar pada vaksin," ujar Pandu dalam diskusi daring, Sabtu, 19 Desember 2020.

    "Padahal, vaksinasi itu pencegahan sekunder. Pencegahan primer tetap 3T dan 3M. Jadi, vaksin itu jangan didewa-dewakan," lanjut dia.

    ADVERTISEMENT

    Pandu mencontohkan negara seperti Australia berhasil memulihkan ekonomi mereka bahkan sebelum ada vaksin Covid-19. "Kenapa? Karena pandeminya terkendali. Lihat Wuhan, tempat asal virus Corona itu, sekarang di sana ekonomi pulih, tanpa vaksin," ujar dia.

    Hal ini, kata Pandu, disampaikan bukan untuk memupuskan harapan masyarakat. Melainkan untuk menyadarkan masyarakat agar realistis serta mengingatkan pemerintah agar tak hanya mengobral harapan.

    "Tujuan kita adalah menangani pandemi. Jadi semua cara, 3T dan 3M diperkuat dulu. Tidak bisa ditinggal begitu saja. Bukan vaksin yang mengendalikan pandemi, tapi semua cara. Vaksin hanya salah satu cara dan bukan satu-satunya cara," ujar Pandu Riono.

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.