IDI: 342 Petugas Medis Gugur Akibat Terinfeksi Covid-19

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua perawat dan seorang petugas keamanan memakai pakaian hazmat dan alat pelindung diri lengkap untuk merawat warga binaan terkonfirmasi positif COVID-19 di Lapas Perempuan Pekanbaru, 1 Oktober 2020. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Pekanbaru, Riau, kini ibarat rumah sakit dadakan yang merawat pasien COVID-19. Fasilitas itu menjadi salah satu klaster penularan terbesar di Provinsi Riau dan untuk pertama kalinya di Indonesia isolasi mandiri bertempat di Lapas. ANTARA FOTO/FB Anggoro

    Dua perawat dan seorang petugas keamanan memakai pakaian hazmat dan alat pelindung diri lengkap untuk merawat warga binaan terkonfirmasi positif COVID-19 di Lapas Perempuan Pekanbaru, 1 Oktober 2020. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Pekanbaru, Riau, kini ibarat rumah sakit dadakan yang merawat pasien COVID-19. Fasilitas itu menjadi salah satu klaster penularan terbesar di Provinsi Riau dan untuk pertama kalinya di Indonesia isolasi mandiri bertempat di Lapas. ANTARA FOTO/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Jakarta - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan sebanyak 342 petugas medis yang terdiri dari 192 dokter, 14 dokter gigi, dan 136 perawat gugur dalam tugas akibat terinfeksi Covid-19.

    “Hingga 5 Desember 2020, sebanyak 342 petugas medis meninggal dunia,” ujar perwakilan Divisi Advokasi dan Hubungan Eksternal Tim Mitigasi PB IDI, Dr Eka Mulyana, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 5 Desember 2020.

    Para dokter yang meninggal dunia tersebut terdiri dari 101 dokter umum (empat guru besar), dan 89 dokter spesialis (tujuh guru besar), serta dua residen yang keseluruhannya berasal dari 24 IDI wilayah (provinsi) dan 85 IDI cabang (Kota/Kabupaten).

    Eka menjelaskan apapun informasi yang menyebut Covid-19 adalah hoaks atau hasil konspirasi, namun kenyataannya adalah virus ini benar-benar nyata dan telah memakan nyawa banyak orang dalam waktu yang cepat.

    "Kami berharap jangan mengorbankan keselamatan orang lain dengan ketidakpercayaan tersebut. Tingginya lonjakan pasien Covid-19 serta angka kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan menjadi peringatan kepada kita semua untuk tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan (3M),” jelas dia.

    Dengan mengabaikan protokol kesehatan, lanjut dia, maka tidak hanya mengorbankan keselamatan diri sendiri namun juga keluarga dan orang terdekat termasuk orang di sekitar. Pandemi Covid-19 akan berlalu dengan kerja sama seluruh pihak.

    Sementara itu, Anggota Tim Pedoman dan Protokol dari Tim Mitigasi PB IDI Weny Rinawati mengingatkan para tenaga kesehatan agar tidak menurunkan kualitas APD yang dikenakan.

    "Saat ini standar level APD yang wajib dikenakan oleh para tenaga kesehatan adalah level tertinggi, sesuai dengan risiko tempat melakukan pelayanan. Kami juga berharap agar pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan juga menyediakan APD yang layak bagi para tenaga kesehatan," ujar Weny.

    Sementara itu bagi para tenaga kesehatan yang berpraktek secara pribadi sebaiknya tetap menggunakan APD level sesuai potensi risiko dalam menangani pasien.

    Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah, menjelaskan bahwa sekitar 75 persen perawat yang meninggal akibat Covid-19 umumnya bertugas di kamar rawat inap.

    Kemungkinan perawat tertular dari pasien sebelum hasil swab mereka (pasien) keluar dari lab (laboratorium) atau Orang Tanpa Gejala (OTG). “Kami menyadari bahwa para tenaga kesehatan dari berbagai divisi sudah kewalahan menangani lonjakan pasien COVID-19 dan hasil swab yang harus diperiksa," kata Harif.

    Karena itu, ia berharap dukungan pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kualitas perlengkapan pemeriksaan kesehatan sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih cepat untuk mengurangi angka penularan di fasilitas kesehatan, termasuk pemeriksaan rutin untuk para tenaga kesehatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI Nyatakan Vaksin Covid-19 Sinovac Berstatus Halal, Ini Alasannya

    Keputusan halal untuk vaksin Covid-19 itu diambil setelah sejumlah pengamatan di fasilitas Sinovac berikut pengawasan proses pembuatan secara rinci.