113 Anggota Polri Dipecat Sejak Januari-Oktober 2020, Mayoritas Kasus Narkoba

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota TNI dan Polri menampilkan marching band saat mengikuti upacara puncak perayaan HUT ke-73 Bhayangkara di Silang Monas, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.Presiden mengapresiasi saat memimpin Upacara Perayaan HUT Bhayangkara ke-73 atas pencapaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK serta berharap sinergitas TNI - Polri dapat ditingkatkan dalam upaya menghadapi berbagai tantangan tugas yang semakin kompleks. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Anggota TNI dan Polri menampilkan marching band saat mengikuti upacara puncak perayaan HUT ke-73 Bhayangkara di Silang Monas, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.Presiden mengapresiasi saat memimpin Upacara Perayaan HUT Bhayangkara ke-73 atas pencapaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK serta berharap sinergitas TNI - Polri dapat ditingkatkan dalam upaya menghadapi berbagai tantangan tugas yang semakin kompleks. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 113 anggota Polri dipecat di sepanjang Januari hingga Oktober 2020. Sebagian besar dari ratusan anggota itu dipecat karena tersangkut kasus penyalahgunaan narkotika.

    Namun, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono tak membeberkan jumlah tepatnya anggota yang terlibat kasus narkotika.

    "Ada yang sudah inkrah, ada juga yang masih berproses di pengadilan," ujar Argo saat dikonfirmasi pada Ahad, 25 Oktober 2020.

    Lantaran angka anggota yang terseret narkotika dinilai cukup tinggi, Kepala Kepolisian RI Jenderal Idham Azis pun memerintahkan agar ke depan, mereka yang terbukti bersalah di kasus narkotika untuk dihukum mati. Apalagi jika mereka ternyata yang mengedarkan atau bahkan menjadi bandar.

    "Komitmen Kapolri sudah sangat jelas dan tegas. Oknum anggota yang terlibat harus dihukum mati karena yang bersangkutan tahu undang-undang dan tahu hukum," ucap Argo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    QAnon dan Proud Boys, Kelompok Ekstremis Sayap Kanan Pendukung Donald Trump

    QAnon dan Proud Boys disebut melakukan berbagai tindakan kontroversial saat memberi dukungan kepada Donald Trump, seperti kekerasan dan misinformasi.