Satgas: Kenaikan Mobilitas Warga Dongkrak Zona Merah dan Oranye Covid-19

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tanggal2020-07-23DeskripsiWiku Adisasmito merupakan Guru Besar yang mendalami kebijakan kesehatan di bidang sistem kesehatan dan penanggulangan penyakit infeksi. Dia juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia untuk beberapa mata kuliah sarjana dan pascasarjana terkait analisis dan pembuatan kebijakan kesehatan. Covid19.go.id

    Tanggal2020-07-23DeskripsiWiku Adisasmito merupakan Guru Besar yang mendalami kebijakan kesehatan di bidang sistem kesehatan dan penanggulangan penyakit infeksi. Dia juga mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia untuk beberapa mata kuliah sarjana dan pascasarjana terkait analisis dan pembuatan kebijakan kesehatan. Covid19.go.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa angka mobilitas warga di DKI Jakarta meningkat saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir dan PSBB transisi dijalankan. Kenaikan ini, disebut Wiku sejalan dengan peningkatan jumlah kasus positif Covid-19, yang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir.

    "Terlihat bahwa aktivitas penduduk atau mobilitas penduduk itu berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus," ujar Wiku dalam diskusi di Channel YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat, 11 September 2020.

    Wiku mengatakan bahwa efek dari mobilitas penduduk karena adanya PSBB transisi di Jakarta, berefek ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Kasus di Pulau Jawa dan Bali itu per 10 September, ia sebut kontribusi terhadap kasus nasional sebesar 64,18 persen.

    Dilihat dari zonasi yang ada, pada saat sekarang, Wiku juga menyebut jumlah zona merah atau resiko tinggi bertambah dari 65 kabupaten/kota menjadi 70. Sedangkan zona oranye atau resiko sedang dari 230 juga naik jadi 267. Sedangkan zona kuning atau resiko rendah menurun dari 151 menjadi 114 kabupaten/kota.

    Senada dengan Wiku, Pakar Kesehatan Masyarakat Iwan Ariawan juga mengatakan mobilitas ini sebagai faktor tak terpisahkan dari peningkatan jumlah kasus belakangan.

    "Dulu waktu PSBB itu 60 persen orang di Jakarta ada di rumah, tapi begitu mereka mulai keluar dan lebih dari 60 persen, itu angkanya (kenaikannya) naik, dan naiknya cepat," kata Iwan dalam diskusi yang sama.

    Ia menegaskan hal ini seharusnya ini tidak terjadi kalau protokol kesehatannya dilakukan. Karena dari penelitian yang ada sebetulnya protokol bisa mencegah naiknya kasus ketika PSBB dilonggarkan, asal dilakukan dengan cakupan yang besar, konsisten, dan benar.

    "Kita masih punya masalah di sini," kata Iwan.

    Wiku mengakui bahwa kedisiplinan di masyarakat memang menjadi masalah yang masih dihadapi. Agar kasus dapat dikendalikan, yang terpenting adalah disiplin.

    "Ini pelajaran besar buat kita semua bahwa kalau kita tak disiplin nanti ada PSBB atau tidak, juga gak ada gunanya. PSBB hanya mencegah ketika PSSB turun (diterapkan), nanti PSBB dibuka (dicabut) akan kembali lagi," kata Wiku.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Jalan Terus, Ada Usulan Perihal Pelaksanaan dalam Wabah Covid-19

    Rapat kerja antara DPR, Pemerintah, KPU, Bawaslu dan DKPP menyepakati bahwa Pilkada 2020 berlangsung 9 Desember 2020 dengan sejumlah usulan tambahan.