Satgas Covid-19: PSBB Transisi di DKI Sebabkan Mobilitas Orang di Jawa Naik

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara Satgas COVID-19 yang baru, Wiku Adisasmito saat memberikan keterangan terkait update pandemi tersebut di Indonesia . Pemerintah resmi menunjuk Wiku Adisasmito menjadi juru bicara pemerintah menggantikan Achmad Yurianto. Ketua Tim Pakar GTPPC-19 (KOMBEN BNPB/M Arfari Dwiatmodjo)

    Juru Bicara Satgas COVID-19 yang baru, Wiku Adisasmito saat memberikan keterangan terkait update pandemi tersebut di Indonesia . Pemerintah resmi menunjuk Wiku Adisasmito menjadi juru bicara pemerintah menggantikan Achmad Yurianto. Ketua Tim Pakar GTPPC-19 (KOMBEN BNPB/M Arfari Dwiatmodjo)

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB Transisi yang dilakukan DKI Jakarta berdampak terhadap kenaikan mobilitas atau pergerakan orang di Pulau Jawa.

    “Jadi rupanya efek dari mobilitas penduduk karena adanya PSBB Transisi di Jakarta ternyata memiliki efek ke berbagai wilayah di Pulau Jawa,” kata Wiku dalam diskusi Satgas Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta pada Jumat 11 September 2020.

    Berdasarkan data yang bersumber dari Facebook Data For Good - Tim Sinergi Mahadata Universitas Indonesia, terjadi peningkatan mobilitas dalam masa PSBB Transisi 31 Agustus 2020-6 September 2020 dibandingkan masa PSBB 4-10 Mei 2020.

    Hal itu juga berpengaruh terhadap penambahan kasus dengan penambahan kasus di Pulau Jawa dan Bali di mana per tanggal 10 September kedua wilayah itu berkontribusi terhadap 64,18 persen dari total kasus COVID-19 nasional.

    Menurut Wiku, jika dilihat dari zonasi yang ada saat ini terjadi penambahan zona merah dari 65 kabupaten/kota menjadi 70 kabupaten/kota dan 230 kabupaten/kota di zona oranye naik menjadi 267 kabupaten/kota.

    “Jadi terlihat bahwa aktivitas penduduk, mobilitas penduduk itu berkontribusi dalam peningkatan jumlah kasus,” kata Wiku.

    Hal senada diungkapkan oleh ahli epidemiologi dan pakar kesehatan masyarakat dr. Iwan Ariawan ikut menegaskan bahwa analisis dari data menunjukkan ada korelasi antara pergerakan penduduk dengan penambahan jumlah kasus.

    Akademisi Universitas Indonesia itu mengatakan semakin banyak penduduk yang bergerak maka semakin banyak penambahan jumlah kasus COVID-19 pada hari itu.

    “Mengenai waktunya, kalau kita lihat per hari itu yang banyak terjadi pergerakan penduduk di pagi hari waktu orang pergi ke kantor dan di sore hari waktu orang pulang dari kantor. Pada tanggal-tanggal tertentu di mana ada libur panjang itu terjadi pergerakan penduduk dari kota besar ke luar kota,” ujar Iwan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Memiliki Tas Mewah

    Memilik tas mewah merupakan impian sebagian orang. Namun ada hal yang harus anda perhatikan ketika memiliki dan merawat tas mahal tersebut.