Survei: 50 Persen Publik Ingin PSBB Lanjut, 43 Persen Tidak

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga antre mencuci tangan saat akan memasuki Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2020. SUGBK dibuka kembali mulai 5 Juni 2020 untuk kegiatan olahraga pasca keputusan pemerintah DKI Jakarta menerapkan PSBB transisi. ANTARA

    Warga antre mencuci tangan saat akan memasuki Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2020. SUGBK dibuka kembali mulai 5 Juni 2020 untuk kegiatan olahraga pasca keputusan pemerintah DKI Jakarta menerapkan PSBB transisi. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan sikap publik terbelah menyikapi apakah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebaiknya dilanjutkan atau dihentikan.

    Sebanyak 50,6 persen masyarakat ingin PSBB dilanjutkan agar penyebaran Covid-19 bisa diatasi. Sementara 43,1 persen masyarakat menilai PSBB sudah cukup dan bisa dihentikan agar ekonomi segera berjalan. Sisanya, 6,3 persen masyarakat tidak tahu atau tidak jawab.

    Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, secara demografi, warga berpendidikan SLTA dan PT cenderung ingin PSBB dilanjutkan. Sebaliknya, mereka yang berpendidikan SD-SLTP cenderung ingin PSBB dihentikan.

    Demikian pula warga yang berpendapatan lebih tinggi cenderung ingin melanjutkan PSBB. Sebaliknya dengan mereka yang berpendapatan lebih rendah atau masyarakat di pedesaan cenderung tak ingin melanjutkan pembatasan.

    “Berdasarkan wilayah, terutama warga DKI, sebanyak 76 persen masyarakat ingin PSBB dilanjutkan. Pendukung Jokowi - Ma’ruf cenderung ingin PSBB dilanjutkan, sementara pendukung Prabowo - Sandiaga terbelah sama besar,” ujar Burhanuddin Muhtadi, Ahad, 7 Juni 2020.

    Survei ini dilakukan pada 16-18 Mei 2020 lalu. Hasil sampel sebanyak 1.200 responden dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak survei tatap muka langsung yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.

    Para responden diwawancarai via telepon. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.200 responden memiliki toleransi kesalahan (margin of error--MoE) sekitar ±2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.