Larangan Mudik, IDI Sarankan Penghentian Transportasi Massal

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mendata pemudik yang akan menuju Sumedang di perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Sumedang di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu, 11 April 2020. Posko tim gugus tugas COVID-19 didirikan di sejumlah titik perbatasan untuk mencegah penyebaran virus Corona yang mungkin saja dibawa oleh pemudik. ANTARA/Raisan Al Farisi

    Petugas mendata pemudik yang akan menuju Sumedang di perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Sumedang di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Sabtu, 11 April 2020. Posko tim gugus tugas COVID-19 didirikan di sejumlah titik perbatasan untuk mencegah penyebaran virus Corona yang mungkin saja dibawa oleh pemudik. ANTARA/Raisan Al Farisi

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Adib Khumaidi menyarankan pemerintah menghentikan sementara operasi angkutan massal untuk mencegah penularan Covid-19. Larangan itu perlu diterapkan untuk mempertegas keputusan pemerintah melarang mudik.

    “Kalau hanya sekedar pelarangan tanpa restriksi akan sulit,” kata Adib saat dihubungi, Selasa, 21 April 2020.

    Adib khawatir tanpa penghentian operasional transportasi massal, masyarakat masih nekat untuk mudik. Karena itu, ia meminta larangan operasional diberlakukan untuk transportasi darat, laut, maupun udara. “Kalau diikuti pembatasan perjalanan maka itu menjadi mempertegas pelarangan mudik ini,” kata dia.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memutuskan secara resmi melarang mudik. Keputusan ini diambil untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sebelumnya, larangan ini hanya bersifat imbauan.

    IDI menganggap pelarangan mudik sudah tepat untuk menghindari terjadinya gelombang kedua kasus penularan Corona. Menurut IDI, kunci melawan Covid-19 ialah dengan memutus mata rantai penularan.

    Adib mengatakan selama pergerakan masyarakat tidak dibatasi, maka potensi Covid-19 menyebar ke mana-mana akan terus ada. Bila sudah begitu, maka akan semakin sulit untuk memutus mata rantai penyebaran.

    Ia mengatakan penyebaran virus akan semakin tidak terkendali bila mudik masih diizinkan. Sebab, para pemudik tidak hanya berpotensi menyebarkan virus ke kampung halaman, tetapi juga bisa menyebarkan virus, ketika ia kembali ke tempat perantauan. “Jadi betapa sulitnya kita memutus mata rantai begitu perpindahan orang semakin luas,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.