Polisi Rekonstruksi Penyiraman Air Keras Novel Baswedan Besok

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka penyiraman penyidik senior KPK, Novel Baswedan digelandang menuju mobil tahanan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 28 Desember 2019. Polisi menangkap kedua pelaku berinisial RM dan RB pada Kamis malam, 26 Desember 2019 di Depok.TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Tersangka penyiraman penyidik senior KPK, Novel Baswedan digelandang menuju mobil tahanan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu, 28 Desember 2019. Polisi menangkap kedua pelaku berinisial RM dan RB pada Kamis malam, 26 Desember 2019 di Depok.TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jaya akan melakukan rekonstruksi kejadian penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan, pada Jumat, 7 Februari 2020. Rekonstruksi bakal dilakukan pada subuh di dekat rumah Novel di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

    "Besok ada rekonstruksi, dilakukan subuh sesuai kejadian," kata pengacara Novel, Saor Siagian saat dihubungi, Kamis, 6 Februari 2020.

    Novel disiram air keras seusai menunaikan salat subuh di masjid dekat rumahnya pada 11 April 2017. Penyiraman ini membuat kedua mata Novel terluka parah.

    Pada akhir Desember 2019, polisi menangkap dua orang tersangka penyerang, yakni dua anggota Brigade Mobil, Ronny Bugis, dan Rahmat Kadir Mahulette. Ronny ditengarai orang yang menyiram cairan asam ke wajah Novel. Sementara, Rahmat diduga sebagai orang yang mengendarai motor.

    Rahmat sempat mengatakan alasannya melukai penyidik senior KPK tersebut. Dia menganggap Novel sebagai pengkhianat.

    Novel mengatakan tak mengenal kedua pelaku ini. Menurut Novel, ucapan Rahmat justru semakin membuat yakin bahwa mereka hanyalah orang-orang suruhan. "Ketika dia bilang pengkhianat, perbuatannya dia tidak berdiri sendiri. Berarti dia orang suruhan, saya semakin yakin itu,” ujar Novel.

    Polda Metro Jaya sempat melimpahkan berkas perkara dua tersangka tersebut ke Kejaksaan Tinggi Jakarta. Namun, kejaksaan mengembalikan berkas tersebut karena masih belum lengkap.

    "Penuntut Umum berpendapat bahwa hasil penyidikan tersebut ternyata masih kurang lengkap, Penuntut Umum segera mengembalikan berkas perkara itu kepada penyidik disertai petunjuk untuk dilengkapi," ujar Kepala Seksi Penerangan Umum Kejati DKI Jakarta Nirwan Nawawi dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 5 Februari 2020.

    Rosseno Aji | Julnis Firmansyah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.