Nelayan Pangkalarang Keluhkan Keberadaan Kapal Isap Timah

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim operasi khusus Bakamla RI dengan Kapal patroli KN Bintang Laut-401 berhasil mengamankan satu kapal timah yang diduga melakukan kegiatan isap pasir timah tanpa dilengkapi dokumen. (sumber: Bakamla)

    Tim operasi khusus Bakamla RI dengan Kapal patroli KN Bintang Laut-401 berhasil mengamankan satu kapal timah yang diduga melakukan kegiatan isap pasir timah tanpa dilengkapi dokumen. (sumber: Bakamla)

    TEMPO.CO, Pangkalpinang - Ratusan kelompok nelayan Pangkalarang, Kota Pangkalpinang mengeluhkan keberadaan puluhan Kapal Isap Produksi (KIP) timah yang bersandar di sepanjang alur muara Pelabuhan Pangkalbalam. Alur muara yang jadi lokasi parkir KIP tersebut telah membuat nelayan kesulitan mencari nafkah akibat lokasi yang sempit dan rusaknya alat tangkap nelayan.

    Salah satu nelayan Pangkalarang, Haryanto mengatakan keberadaan KIP tersebut sudah sangat mengganggu nelayan kecil yang mencari nafkah di muara pelabuhan. "Kapal isap yang parkir di kiri kanan alur sungai sudah mencapai 22 unit. Ini membuat kita kesulitan karena alur sungai Pangkalbalam yang memang sudah sempit sekarang bertambah sempit. Saat air pasang kita kesulitan beraktivitas memasang jaring ikan, kepiting dan alat pancing," ujarnya kepada wartawan, Jumat, 24 Januari 2020.

    Haryanto menuturkan sejumlah alat tangkap nelayan mengalami kerusakan semenjak keberadaan KIP tersebut. Nelayan, kata dia, sudah berusaha melaporkan persoalan tersebut ke pihak terkait tapi belum ada tindak lanjut.

    "Kita mau ke kapal percuma juga karena yang disana pekerja dari Thailand. Tidak paham bahasanya. Kondisi ini sudah empat tahun dan makin banyak setiap musim angin kencang. Parkirnya mulai dari dok kapal sampai ke muara. Kiri kanan KIP semua," kata Haryanto.

    Haryanto menuturkan para nelayan menuntut agar seluruh KIP tersebut disingkirkan agar nelayan bisa beraktivitas normal mencari nafkah. Selain itu, kata dia, dikhawatirkan akan menimbulkan konflik yang lebih besar jika dibiarkan.

    "Saya saja rugi Rp 600 ribu karena alat tangkap rusak. Bahkan ketika melaut, pendapatan turun hingga Rp 50 ribu per hari. Bukannya tidak berusaha. Tapi wilayah tangkap kita dipenuhi KIP semua. Mereka harus disingkirkan. Apalagi beberapa pohon mangrove rusak di sekitar wilayah tangkap kita nelayan kecil ini," kata Haryanto.

    Ketua Kelompok Nelayan Pangkalarang Obie Ardi mengatakan saat ini terdapat 64 nelayan kecil yang terdampak akibat sandarnya KIP timah. Untuk itu, ia meminta pihak terkait dapat bertindak cepat untuk menyelesaikan persoalan ini. "Setiap ada penyuluhan dari DKP (Dinas Kelautan Perikanan) sering kita sampaikan. Namun tidak ada tindakan. Total nelayan Pangkalarang ini 159 orang. 64 orang diantaranya adalah nelayan kecil. Kita harapkan secepatnya kapal isap ini disingkirkan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.