Projo Pamitan Bubar Setelah Sokong Jokowi di 2 Pilpres

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi dalam konferensi pers bertajuk 'Menjawab dan Melawan Kekhawatiran Pelemahan KPK' di Restoran Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, pada Rabu,18 September 2019. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi dalam konferensi pers bertajuk 'Menjawab dan Melawan Kekhawatiran Pelemahan KPK' di Restoran Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, pada Rabu,18 September 2019. TEMPO/ Galuh Putri Riyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok relawan pendukung Jokowi mulai menunjukkan sikap setelah mengetahui jajaran anggota Kabinet Jokowi Jilid II kemarin. Ketua Umum Ormas Projo Budi Arie Setiadi menyatakan bahwa tugas organisasinya telah selesai dengan mendukung Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019. 

    "Terima kasih atas kerja samanya selama ini. Tugas Projo sudah selesai hingga pelantikan 20 Oktober 2019. Selamat bekerja pemerintahan Jokowi - KMA dan Kabinet Indonesia kerja," ujarnya lewat pesan singkat kepada sejumlah tokoh pada Selasa malam, 22 Oktober 2019. 

    Menurut dia, Projo ikhlas jika memang tak dibutuhkan lagi keberadaannya oleh Jokowi. Tugas politik dan sejarah relawan Projo dinilainya sudah selesai setelah Jokowi berhasil menjadi Presiden RI dua periode.

    "Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan selama ini. Izin pamit untuk kembali ke kehidupan awal."

    Budi Arie pun mengatakan akan segera menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pembubaran Projo setelah pengumuman kabinet pada hari ini.

    "Tugas politik Projo mengawal Jokowi dua periode sudah selesai," kata Budi Arie.

    Kabar pembubaran Projo, yang berdiri pada Desember 2013, dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Projo Handoko.

    “Rencananya begitu (dibubarkan hari ini),” ucapnya saat dihubungi hari ini, Rabu, 23 Oktober 2019.

    Menurut Handoko, tugas sejarah Projo sudah berakhir seiring dengan terlewatinya seluruh tahapan Pemilu 2019.

    Projo juga menangkap sinyal kekecewaan dari relawan-relawan akar rumput ihwal pemilihan Kabinet Jokowi Jilid II.

    Handoko membenarkan salah satu sebabnya karena pemilihan Wishnutama menjadi menteri, padahal dia tidak berperan besar dalam pemenangan Jokowi baik di Pilpres 2014 maupun 2019. Bahkan, Partai Gerindra yang jelas-jelas rival Jokowi dalam dua pilpres bisa masuk kabinet.

    “Ada nama-nama yang selama ini menjadi die-hard Pak Jokowi yang loyal dan cakap namun tidak mendapat tempat di kabinet,” tuturnya.

    ANDITA RAHMA | FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.