Wartawan Tirto - Narasi TV Laporkan Kekerasan Polisi ke Propam

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jurnalis Malang Raya menutup mulutnya dengan lakban saat aksi Diam terkait kasus kekerasan terhadap jurnalis di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, Jumat, 27 September 2019. Dalam aksi tersebut Jurnalis mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan jurnalis yang melibatkan anggotanya dan massa aksi serta mendesak Dewan Pers membentuk Satgas Anti Kekerasan guna menuntaskan kasus kekerasan yang terjadi sepanjang aksi penolakan RKUHP dan revisi UU KPK di berbagai daerah. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Jurnalis Malang Raya menutup mulutnya dengan lakban saat aksi Diam terkait kasus kekerasan terhadap jurnalis di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, Jumat, 27 September 2019. Dalam aksi tersebut Jurnalis mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan jurnalis yang melibatkan anggotanya dan massa aksi serta mendesak Dewan Pers membentuk Satgas Anti Kekerasan guna menuntaskan kasus kekerasan yang terjadi sepanjang aksi penolakan RKUHP dan revisi UU KPK di berbagai daerah. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Aliansi Jurnalis Indonesia atau AJI Jakarta dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers melaporkan aksi kekerasan polisi yang dialami jurnalis Tirto.id, M. Fiqie Haris Prabowo, dan Narasi TV, Vany Fitria, saat meliput aksi demonstrasi mahasiswa di Gedung DPR-MPR . 

    Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung mengatakan, Haris dan Vany melaporkan adanya polisi yang diduga melanggar Undang-Undang Pers.

    "Iya jadi perkara yang kami laporkan adalah penghalang-halangan kerja jurnalistik yang diduga pelaku adalah aparat," ujar Erick saat dihubungi, Kamis, 10 Oktober 2019.

    Erick mengatakan sempat mengadu ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Badan Reserse Kriminal Polri. Namun, laporan yang diajukan tersebut ditolak.

    Mereka kemudian mengadukan perkara ini Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri. "Setelah menjelaskan dengan argumen dan kronologis akhirnya diterima," kata dia.

    Laporan M. Fiqie Haris teregister dengan nomor SPSP2/2550/X/2019/Bagyanduan, dengan Brigadir Abdul Rosyad sebagai petugas penerima surat pengaduan. Sementara laporan dengan pelapor Vany Fitria teregister dengan nomor SPSP2/2551/X/2019/Bagyanduan.

    Sebelumnya, saat meliput aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR, Jakarta, Haris dipiting oleh polisi. Ia pun dituduh sebagai perusuh kendati sudah menunjukkan kartu pers. Sedangkan Vany kehilangan ponsel yang dirampas polisi dan belum dikembalikan hingga sekarang. 

    Erick mengatakan, pihaknya akan membuat laporan serupa ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Dewan Pers, dan Ombdusman. "Nanti kami akan membuat pengaduan ke Komnas HAM sekaligus audiensi, setelah dari sana kami lanjut ke Dewan Pers dan Ombdusman," kata Erick.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.