Orientasi Kehumasan dan Pelatihan Jurnalistik Kementerian Kelautan dan Perikanan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Edukasi penulisan rilis di Kementerian Kelautan dan Perikanan

    Edukasi penulisan rilis di Kementerian Kelautan dan Perikanan

    INFO NASIONAL — Biro Hubungan Masyarakat sebuah kementerian/lembaga negara dituntut menulis rilis yang akurat untuk menyebarkan informasi terpercaya kepada publik. Terkait hal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Tempo Media Group mengadakan Pelatihan Jurnalistik 4.0 bertajuk “Edukasi Penulisan Rilis di Kementerian KKP”, Kamis, 26 September 2019 di Ruang Rapat Pangasius, Gedung Minabahari 3 Lantai 15, Jakarta Pusat.

    “Pegawai KKP harus aktif dalam penulisan press release. Isinya harus punya nilai dan bobot yang bagus. Rilis bukan saja mengangkat indikator keberhasilan kementerian, tapi juga mengangkat keberhasilan stakeholder atau pihak ketiga,” ujar Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Ditjen PDSPKP KKP, Dena Nur Ambarsari.

    Keberhasilan KKP mengelola laut beserta sumber daya alam kerap menjadi sumber rilis. Pelatihan ini diharapkan mampu mempertajam keahlian peserta saat menulis.

    Hadir sebagai pembicara pelatihan, Redaktur Eksekutif Tempo, Elik Susanto, pun menyampaikan tiga materi yakni Dasar-dasar Penulisan Rilis Resmi, Penulisan Voxpop, dan Penulisan Rilis Baku yang Google Friendly. Adapun tema Pembuatan Konten Sosial Media dipresentasikan oleh Head of Social Media Tempo, Ferdinan Akbar.

    Elik Susanto meminta peserta fokus pada tujuan dan muatan rilis saat mulai menulis. Ada empat poin penting dalam sebuah rilis, yakni informasi yang lengkap dan jelas, data yang ditampilkan akurat, nama tokoh atau pimpinan perusahaan yang berbicara, serta narasumber yang bisa dihubungi setiap saat. “Rilis harus menjelaskan informasi yang detail,” ujarnya.

    Selain teks, platform rilis juga bisa berbentuk video dan live streaming. Langkah selanjutnya menyebarkan rilis lewat media sosial dan podcast yang mulai bertumbuh di Indonesia.

    Penulis juga bisa memanfaatkan voxpop atau atau suara warga (jurnalisme publik) seperti Indonesiana di Tempo.co, namun tetap perlu mengedepankan kesahihan sebuah data. “Hindari berita palsu (hoaks). Saat ini 64 persen pengguna medsos (media sosial) menyebarkan kabar yang belum terverifikasi,” ujar Elik.

    Pelatihan menulis juga mengusung pentingnya memahami Search Engine Optimization (SEO) agar mudah terindeks mesin pencari Google. Berita atau tulisan yang mudah ditemukan pengguna Internet akan memudahkan penyebaran informasi. Untuk mengoptimalkan SEO, penulis harus memilih kata kunci (keyword) yang tepat.

    Pemateri terakhir, Akbar menyampaikan sejumlah strategi meningkatkan interaksi warganet terhadap publikasi kementerian. Strategi tersebut antara lain, penyebutan akun tokoh (mention), penggunaan tagar, serta pemakaian foto dan video.

    Penyebaran rilis di beragam media sosial berpeluang besar mendorong perhatian masyarakat luas. Dari 150 juta pengguna Internet di Indonesia, 88 persen di antaranya mengakses Youtube, 83 persen menggunakan Whatsapp, 81 persen memiliki akun Facebook, dan 80 persen pengguna Instagram. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.