Kabut Asap Makin Pekat di Kota Pontianak

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Umat Islam melaksanakan Salat Idul Adha di tepian Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat, Ahad, 11 Agustus 2019. Umat Muslim di Pontianak melaksanakan salat Idul Adha dalam kondisi diselimuti kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    Umat Islam melaksanakan Salat Idul Adha di tepian Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat, Ahad, 11 Agustus 2019. Umat Muslim di Pontianak melaksanakan salat Idul Adha dalam kondisi diselimuti kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabut asap makin pekat menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat sejak subuh, Selasa 13 Agustus 2019. Akibatnya aktivitas warga Pontianak terganggu.

    "Subuh ini asap makin tebal. Ketika menuju ke masjid untuk salat Subuh dari rumah sangat terasa bau asap yang dihirup," kata Tomi, warga yang tinggal Parit Mayor, Pontianak, hari ini.

    Ia menambahkan bahwa jarak pandang saat ini makin pendek akibat kabut asap atau sekitar 150 hingga 200 meter.

    "Tentu hal ini mengganggu aktivitas warga keluar rumah. Saya khawatir dampak kesehatan bagi saya dan keluarga. Saya dengar-dengar sudah ada beberapa teman yang radang tenggorokan dan lainnya akibat kabut asap," ujarnya.

    Menurut Tomi, sudah beberapa pekan Kota Pontianak maupun daerah lain di Kalbar belum diguyur hujan. Dengan kondisi kemarau di Kalbar yang memiliki banyak lahan gambut mudah terbakar oleh pembukaan lahan secara dibakar atau lainnya.

    Ia berharap secepatnya hujan turun agar kabut hilang. Tomi juga mengharapkan tidak ada lagi pembakaran lahan dan hutan.

    "Saya setengah trauma dengan kabut asap seperti beberapa tahun lalu yang sangat pekat atau parah lagi dengan kondisi seperti ini. Saya tidak ingin hal itu terulang," katanya.

    Sebelumnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak meliburkan aktivitas belajar sekolah tingkat TK dan SD di kota itu mulai 13 hingga 14 Agustus 2019 karena makin tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.