Jokowi Sudah Lama Ingin Gelar Pentas Wayang di Istana

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menerima cinderamata berupa wayang kulit tokoh Kresna dari dalang Ki Manteb Sudarsono dalam acara pagelaran wayang kulit Kresna Jumeneng Ratu di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 2 Agustus 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    Presiden Joko Widodo menerima cinderamata berupa wayang kulit tokoh Kresna dari dalang Ki Manteb Sudarsono dalam acara pagelaran wayang kulit Kresna Jumeneng Ratu di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 2 Agustus 2019. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi IV Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo mengatakan, Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah lama ingin mengadakan pentas wayang kulit di Istana Merdeka. Setidaknya, kata dia, Jokowi pernah mengutarakan niatnya saat bertemu para budayawan di Sragen, Jawa Tengah, beberapa bulan lalu.

    "Waktu musim kampanye, saat kunjungan kerja di Sragen, kebetulan ketemu Ki Manteb dan para budayawan ini supaya nanti Agustusan diajak tampil di Istana," katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 2 Agustus 2019.

    Seperti diketahui, malam ini Presiden Jokowi menggelar pentas wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudarsono. Nonton bareng ini bagian dari rangkaian acara menyambut HUT RI ke-74 yang jatuh pada 17 Agustus 2019.

    Pengamat seni wayang, Sindung Tjahyadi, mengatakan ada satu persamaan antara Jokowi dan tokoh Kresna, yaitu ahli strategi. "Champion lah, pak Jokowi dalam hal itu," katanya saat dihubungi Tempo, kemarin.

    Menurut dia, Jokowi jago strategi baik di dalam politik maupun saat memimpin Indonesia. "Kalau bukan ahli strategi dan tidak memiliki ketegasan, tidak mungkin lah beberapa program mercusuar seperti infrastruktur dieksekusi," ucapnya.

    Sementara itu, lakon Kresna menjadi raja jika di dalam dunia wayang terjadi setelah saudaranya, Baladewa, menjadi raja di negeri kelahirannya, Mandura. "Nah kalau tidak salah, Kresna ingin punya kerajaan sendiri," kata Sindung.

    Dosen filsafat Universitas Gadjah Mada ini menuturkan, Kresna sebelumnya bernama Narayana. Ia lalu pergi ke daerah yang bernama Dwarawati dengan tujuan ingin memiliki negara sendiri.

    Di sana, Narayana mampu mengalahkan pemimpinnya, Prabu Narasingha, seorang raja raksasa. Dari peristiwa ini lah, kata dia, ia mendapatkan nama Kresna.

    Sementara itu, menurut Eko, tokoh Kresna dalam Mahabarata dan tradisi kesusastraan Jawa adalah salah satu tipe pemimpin yang melindungi dan mengayomi masyarakatnya. Dia, kata Eko, juga seorang juru damai pihak yang bersengketa.

    Sebelum menjadi raja, Kresna hidup di tengah masyarakat jelata. Ia bisa menjadi raja lantaran memiliki keinginan kuat, kemauan, dan integritas.

    "Dalam konteks kekinian, bahwa penting bagi seorang pemuda kalau ingin menjadi pemimpin tentu tindakan seperti semangat, kerja keras akan menjadi bekal atau ajaran moral yang bisa mengantarkan jadi seorang pemimpin," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.