Dirjen EBTKE: Biofuel Berbasis CPO, Harapan Kejar Target EBT

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), F.X Sutijastoto menyatakan biofuel berbasis Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu harapan danjalan keluar untuk mencapai target kontribusi EBTKE dalam bauran energi nasional sebesar 23%.

    Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), F.X Sutijastoto menyatakan biofuel berbasis Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu harapan danjalan keluar untuk mencapai target kontribusi EBTKE dalam bauran energi nasional sebesar 23%.

    INFO NASIONAL — Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), F.X Sutijastoto menyatakan biofuel berbasis Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu harapan dan jalan keluar untuk mencapai target kontribusi EBTKE dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen.

    Biofuel diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan EBT. ”Karena pengembangannya, seiring dengan dasar kebijakan energi nasional yang berlandaskan pada 3 (tiga) pilar, yaitu energy equity (energi berkeadilan), energy security (keamanan pasokan), dan sustainability, yang berkaitan penggunaan energi yang murah,” kata Toto pada kegiatan Diskusi Interaktif bertajuk Menjawab Tantangan dan Peluang Keberlanjutan Industri Biodiesel Indonesia yang diselenggarakan oleh World Wide Fund (WWF) for Nature Indonesia, di Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019.

    "Di negara kita, aspek utamanya pada daya beli masyarakat sekarang itu dari segi listrik 50% untuk rumah tangga dengan golongan ekonomi lemah sekitar Rp 45-50 triliun, dengan memberikan tarif listrik agar energy security tercapai. Jika kita hanya peduli kepada energy affordability dibanding energy security dampaknya adalah kita mempunyai kendala untuk membangun infrastruktur yang lain," ujar Toto.

    Aspek selanjutnya, yaitu energi berkeadilan, menurut Dirjen Toto, masih banyak masyarakat yang masih belum bisa mengakses listrik atau energi bersih. "Ini yang menjadi tantangan energy policy kita. Oleh karena itu, policy kita bagaimana masyarakat dapat mengakses listrik dan juga energi bersih dengan harga yang terjangkau, makanya rasio elektrifikasi kita upayakan tahun ini bisa 99% dan tahun depan 100%," ujarnya.

    Sementara itu, untuk daerah yang belum memiliki jaringan listrik, Pemerintah mengupayakan pembangunan infrastruktur energi menggunakan APBN berupa PLTS dan PLTMH yang ke depannya akan ditransfer ke PLN menjadi listrik pedesaan.

    "Jika pengembangan green biofuel berhasil, kita bisa menambah 2%, apalagi jika swasta investasi di kilang karena ini potensial sekali. Kemudian, jika CPO dipakai untuk membangkitkan listrik bisa menutup. Jadi, memang salah satu harapan kita untuk mencapai target EBTKE adalah dengan biofuel berbasis CPO," kata Dirjen Toto.

    Salah satu pengembangan biofuel atau bahan bakar nabati, yaitu bioetanol berbasis sorgum. Produktivitas sorgum mendekati tebu, tetapi perbedaannya panen tebu hanya setahun sekali sementara panen sorgum bisa tiga kali dalam setahun. Kelebihan lain dari sorgum adalah tidak terlalu membutuhkan air jadi lahan tandus pun bisa tumbuh. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.