Joko Driyono, dari Lapangan Bola Hingga Tersangkut Masalah Hukum

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelaksana tugas Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Joko Driyono usai diperiksa penyidik Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Sepak Bola di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada Jumat pagi, 22 Februari 2019. TEMPO/Dias Prasongko

    Pelaksana tugas Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Joko Driyono usai diperiksa penyidik Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Sepak Bola di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada Jumat pagi, 22 Februari 2019. TEMPO/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Pelaksana Tugas Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Joko Driyono resmi ditahan oleh Satuan Tugas Antimafia Bola Polri, Senin, 25 Maret 2019. Ia ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

    Joko Driyono ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan atau memasuki dengan cara membongkar, merusak, atau menghancurkan barang bukti yang telah dipasang garis polisi oleh penguasaan umum di kantor Komisi Disiplin PSSI, sejak 14 Februari 2019 lalu.

    "Saudara JD diperiksa tadi pukul 10.00 WIB, lalu kami gelar perkara sekitar pukul 14.00 WIB, setelah itu kami lakukan penahanan terhadap yang bersangkutan," ujar Kepala Satgas Antimafia Bola Polri Brigadir Jenderal Hendro Pandowo di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Senin, 25 Maret 2019.

    Joko adalah Ketua Umum PSSI ketiga yang berurusan dengan dunia hukum. Sebelumnya ada  Nurdin Halid dan La Nyalla Mattalitti.

    Jauh sebelum menjadi orang nomor satu di PSSI, Joko sudah bergelut dengan lapangan dan bola sebagai pemain di klub Putra Gelora. Ia pernah ikut beberapa kompetisi, namun kemudian memutuskan konsentrasi di pendidikannya. Kelak, saat masuk dunia kerja, ia kembali berurusan dengan bola.

    Berita terkait: Joko Driyono Ditahan Satgas Antimafia Bola Polri

    Joko Driyono bekerja sebagai jurnalis olahraga hingga menjadi manajer Pelita Krakatau Steel. Kemudian, ia masuk sebagai anggota PSSI pada era 2000-an. Hingga akhirnya, Joko Driyono menempati jabatan strategis di era Nurdin Halid yakni CEO PT Liga Indonesia.

    Kapasitas Joko Driyono dalam urusan kompetisi terlihat saat menjabat CEO PT Liga. Ia mampu menggulirkan format kompetisi penuh di sepakbola Indonesia.

    Joko Driyono mencanangkan sistem 'paket' dalam laga kandang-tandang. Cara kerjanya adalah sebuah klub bisa melakoni dua laga tandang dalam satu waktu berdekatan sekaligus, didasari atas jarak satu daerah ke lainnya yang akan dikunjungi.

    Lewat sistem ini, jadwal menjadi lebih efisien. Pengeluaran klub juga terpangkas, daripada bolak-balik untuk pulang dan pergi. Sistem ini pun dipakai di kompetisi hingga sekarang.

    Karir Joko Driyono menanjak di 2013. Pada 17 Juni 2013, ia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal PSSI oleh Ketua Umum Djohar Arifin Husin. Di saat yang bersamaan, dia juga merangkap jabatan sebagai CEO PT Liga.

    Dua tahun kemudian atau 2015, Joko Driyono sempat masuk jadi kandidat Ketua Umum PSSI. Lalu pada 2016, dia bersaing dengan Edy Rahmayadi dalam Kongres Luar Biasa. Tapi, Joko gagal dan menjadi wakil Edy yang menduduku kursi Ketua Umum PSSI.

    Baru pada Kongres Tahunan di Bali awal Januari 2019 lalu, Joko Driyono diangkat sebagai Ketua Umum PSSI, setelah Edy Rahmayadi unggul

    Kini, naas menimpanya ketika ia terserimpung masalah hukum. Joko Driyono hanya bisa mendengar  berbagai kiprah tim nasional dari balik jeruji besi.

    Joko Driyono, kata Kepala Satgas Antimafia Bola Polri Brigadir Jenderal Hendro Pandowo di Markas Besar Polri, akan ditahan selama 20 hari sejak hari ini, 25 Maret 2019 hingga 13 April 2019 mendatang.

    ANDITA RAHMA | BERBAGAI SUMBER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.